oleh

Ribuan Keramba Botol Apung Menjamur Ancam Warga Pulau Pasaran ?

#Pemkot harus Segera bertindak

#Dewan Punya PR Rancang undang-undang

#Cegah Konflik sebelum terjadi

#Laju Kapal terganggu

#Ribuan Botol penuhi Pulau Pasaran

Lampung, (Metropolis.co.id) – Warga pulau pasaran merasa resah dan terganggu dengan munculnya ribuan keramba botol apung budidaya kerang hijau yang sangat mengganggu aktifitas lajur perahu, tak hanya itu keramba ini merusak estetika pemandangan laut yang dipenuhi ribuan botol.

Pencemaran laut pesisir kota Lampung ini hari demi hari kian memprihatinkan, selain dipenuhi botol apung, hingga kini nelayan bingung harus berbuat apa, lantaran belum jelas apa pasal dan aturan tentang budidaya keramba botol ini, sebelum konflik berkembang maka Metropolis.co.id melakukan investigasi singkat.

Hasil dilapangan menunjukan benar adanya ribuan hamparan keramba botol apung tersebut yang tersebar di dekat puri gading, gosong kelapa, gosong ager dan hampir ke pulau kubur yang ada di seputaran pulau pasaran.

Ribuan Keramba Botol di Pulau Pasaran

Keluhan ini disampaikan beberapa orang warga setempat diantaranya Muhammad Toha, ia merasa resah, selain menghambat laju kapal, dikhawatirkan akan ada konflik antara nelayan dan pemilik keramba.

“Perlu segera di ekspose ini pak, sebelum terjadi gejolak, daripada nanti ada bentrok antar pemilik perahu dan pemilik keramba, maka secepatnya pemerintah harus segera bersikap,” kata Muhammad Toha.

Perlahan perahu milik toha mengarungi satu persatu keramba dimaksud, tepat dibelakang pulau pasaran, disana sejauh mata memandang terlihat berjejer panjang keramba dimaksud.

“inilah ribuan keramba botol yang sangat mengganggu aktifitas para nelayan pak, semerawut tak tertata, mau lewat saja sudah payah sekarang,” kata pemilik kapal yang juga disering disewakan untuk pemancing itu.

Pemandangan dilokasi juga menunjukkan adanya ribuan botol plastik yang diikat terapung kekeramba yang diakui warga itu adalah budidaya kerang hijau.

“Itu budidaya kerang hijau pak, kalau dulu kan pakai keramba betulan, tapi ini sekarang pakai botol, celakanya itu botol-botol memenuhi perairan pulau pasaran, bagaimana kita mau lewat kalau rapat begini,” ujar Toha sembari terus mengajak Tim Metropolis menelusuri hamparan botol-botol itu.

Kekesalan Muhammad Toha sangatlah beralasan, karena ia kadang harus memutar mencari jalan, sela demi sela harus ia lewati agar dapat keluar dari kitaran pulau pasaran, tak jarang pula perahu toha harus berjibaku melewati gosongan karena hanya itu beberapa bagian yang tersisa dari banyaknya keramba.

“Kalau keramba lama kan jelas ini pak, bentuknya terapung begini ada kayu ada jaring-jaring nya juga, ini tertata, tapi coba lihat itu keramba botol, berantakan, ni kalau nelayan kesal bisa diputus ni pakai arit, tapi kan sayang nanti muncul masalah baru, nelayan lagi yang salah karena dianggap merusak,” keluhnya.

M toha juga merasa kesal karena diketahui para pemilik keramba apung ini bukanlah warga sekitar pulau pasaran, tapi warga lain yang meninggalkan keramba tanpa adanya kontrol baik tata letak ataupun bentanganya.

“Ini yang buat masyarakat bingung, keramba ini punya orang kampung luar sana, tapi apesnya dikita, ini perlu kehadiran pemerintah, aturan seperti apa, undang-undangnya bagaimana, karena sampai saat ini katanya belum jelas undang-undang yang mana yang bisa dipakai ?,” tanya M toha.

Lepas percakapan dengan Muhammad Toha sambil mengelilingi lokasi, tim metropolis melajutkan perjalanan ke pulau pasaran, disana juga ada beberapa warga lain yang mengeluhkan hal sama, kapal mereka susah lewat akibat keramba tersebut.

Sebagai penyeimbang informasi, tim metropolis meneruskan perjalanan menyisiri beberapa wilayah terdekat seperti cungkeng dan sekitarnya, untuk mencari siapa salah satu pemilik keramba apung itu, namun belum ada yang dapat ditemui.

Terus melakukan penelusuran akhirnya didapatlah salah seorang pemilik keramba dimaksud, ia merupakan salah satu tokoh dibilangan sinar laut yakni Rasudin alias pak Ghoir, ia menyambut kunjungan dengan sedikit memaparkan penyebab dan alasan adanya keramba tersebut.

” Ya saya punya itu beberapa keramba disitu, tapi punya kita teratur kok, kenapa arah sana karena disana budidayanya bagus hasilnya, beda dengan kalau kita buat disini itu banyak pencemaran laut yang menghambat pertumbuhan kerang,” kata ghoir berbincang santai.

Dilanjutkanya, memang hingga saat ini belum ada regulasi yang jelas yang mengatur apa dan bagaimana seharusnya keramba botol apung, namun bila diminta atau dimediasi brtemu dengan warga yang terganggu ia merasa siap.

“Ya kita siap saja, alhamdulillah punya kita sih rapi yah, gak tau kalau lainya kerena kan banyak tu ribuan, kita gak tau siapa saja pemiliknya,” ucapnya.

Ia juga menyebutkan beberapa alasan lain yang membuat ia harus berusaha keramba apung hingga ke wilayah pulau pasaran, karena situasi kelurahanya yang dianggap kurang suport dengan nelayan yang juga pelaku UMKM seperti dirinya.

“Ya didesa ini payah kita mau usaha apa, ada pembinaan desa tapi yang dapat itu-itu saja, pengurusnya juga begitu, kan ada koperasinya juga disini, tapi ya itu payah mau maju,” demikian Ghoir.

Putra

Komentar

Tinggalkan Balasan