oleh

Wisata Danau Ranau Perlu Diimbangi Dengan Peningkatan Pengamanan Objek

Danau Ranau, (Metropolis.co.id) – Majunya investasi dan geliat pariwisata di tiap daerah menjadi angin sejuk bagi pengelola wisata, pedagang serta pelaku UMKM pasca tahunan didera pandemi, untuk itu diperlukan kenyamanan usaha.

Seperti yang menimpa seorang pasutri pengelola dibilangan area wisata coffe bar dan kolam renang, Rebby dan Hermia Febriyanti di desa Jepara, Ranau Tengah, Danau Ranau, OKU Selatan pada Kamis 13 Mei 2022 lalu.

Kepada media ini, Hermia menceritakan kejadian yang baru saja seminggu lalu menimpanya, saat dua orang pelaku kejahatan bersenpi menggasak tempat usahanya pada malam hari.

“Cerita seminggu lalu, malam itu sekira kurang lebih pukul 02 WIB anak bangun tidur dan minta minum, lalu saya bangun, mulai dari situ menaruh kecurigaan, saya mendengar suara kayu jatuh, disela pintu ada bayangan yang tak biasanya seperti orang, setelah tau saya berbalik kekasur, ” kata dia sambil menghidangkan pesanan kopi, kamis (19/05/2022).

Hermia tak mau beranjak dari kamar lantaran melihat dan mendengar keanehan, ia terpikir di tempat usaha yang ditinggalinya hanya ada dia dan suami, merasa khawatir ia lantas mengambil ponsel dan berusaha menghubungi sekretaris desa untuk mengabarkan kejadian.

“Melihat gelagat aneh itu, saya kembali tutup selimut dan WA sekdes takut terjadi sesuatu, dengan maksud meminta bantuan dari warga karna saya hanya berdua sedangkan orang jahat itu belum diketahui apakah membawa senjata tajam atau benda lainya, kita khawatir,” ujarnya sambil duduk berbincang ditaman santai yang dikelolanya itu.

Tak lama berselang, datanglah bantuan beberapa orang yang belakangan diketahui adalah sekdes beserta olan dan renal, mereka datang dan lalu turun dari motor, tapi tak kunjung memanggil, malah kemudian hanya terdengar suara letusan senjata api beberapa kali.

“Saya bingung kok gak memanggil, yang ada hanya suara gaduh atau ribut, ada suara letusan senjata api juga saya dengar setengah dua malam itu,” katanya.

Setengah sadar ia dan suami akhirnya inisiatif berkabar melalui orang kampung melalui pesan WA, lalu dibalas oleh linmas jepara, saat itu ia meminta bantuan agar segera kelokasi dengan warga lain.

“Saat itu datanglah linmas, ia turun dari motor lalu manggil suami, ternyata pas suami mau keluar pintu kami dikunci diganjel gunting dari luar, kemudian dibukakan oleh linmas dan akhirnya kami bersama warga,” lanjutnya bercerita.

Warga dan linmas saat itu yang menaruh curiga akhirnya bergerak mencari sekdes yang sudah datang lebih dulu namun tak sampai dilokasi, mereka berpencar mencari sampai ke kebun pisang.

“Saat sudah agak tenang barulah muncul pak sekdes lalu bertanya temanya (renal), lalu bilang motornya olan kemana kok tidak ada, karena ia mengaku datang bersama renal dan olan lalu diancam oleh dua penjahat bersenpi untuk pergi,” ceritanya.

Selang beberapa saat kemudian juga muncul seorang teman pak sekdes dimaksud ia adalah renal, posisi gugup iapun bercerita bahwa mengalami hal sama seperti sekdes, diancam senjata api lalu melompat ke danau menyelamatkan diri.

“Akhirnya setelah renal dan olan datang lalu bercerita maka kami juga warga melapor ke polisi. Akibat kejadian itu kami mengalami kerugian uang tunai sekitar lima juta rupiah, itu juga beserta isi warung dan celengan anak, ditambah satu unit motor honda supra 2020 milik renal,” keluhnya.

Atas kejadian itu, ia berharap kedepan pemerintah dan aparat kepolisian untuk dapat lebih memberikan perhatian lebih bagi para pedagang dan pelaku usaha di sekeliling danau ranau.

“Saya gak berharap barang balik, yang penting kami selamat dan pelaku tertangkap sehingga kami nyaman, karna rabu lalu juga ada yang kehilangan itu,” demikian Hermia.

Diketahui pasutri Rebby (34) dan Hermia febriyanti (31) adalah pelaku usaha coffe bar dan kolam renang di pinggiran danau ranau.

Bermitra dengan pemilik cottage yang perseorangan, Ia menyediakan kolam renang dan jajanan serta oleh-oleh khas untuk para wisatawan, namun kini ia harus bersabar karna sebagian barangnya ludes.

Ia dan suami bahkan kini enggan untuk menginap di lokasi usaha pasca kejadian, karena khawatir insiden lain akan terjadi akibat jauhnya dari pantauan warga kampung dan aparat kepolisian.

Poet

Komentar

Tinggalkan Balasan