oleh

Koran, Konvergensi Media Terbalik ?

Yulius Putra

Oleh : Yulius Putra

Konvergensi media adalah penggabungan atau pengintegrasian media-media yang ada untuk digunakan dan diarahkan kedalam satu titik tujuan. Konvergensi media biasanya merujuk pada perkembangan teknologi komunikasi digital yang dimungkinkan dengan adanya konvergensi jaringan.

Kecepatan informasi yang mampu menembus isi kepala pembaca dalam hitungan menit menjadi alasan pembaca untuk tidak lagi berlangganan dengan satu koran tertentu tiap harinya, cukup kuota Rp.100ribu maka sudah bisa akses semua berita dari portal manapun, berikut, user juga akan mendapat bonus berselancar di medsos dengan sisa kuotanya.

Evolusi media digital ini juga sudah sempat diperkirakan pemilik media besar seperti Chairul Tanjung, saya masih ingat dia memaparkan data saat Rakernas SMSI di Hotel Sari Pacifik, Jakarta pada dua tahun lalu, ia menyebut 5 hingga 10 tahun kedepan lanskap bisnis media akan mengalami transisi dari televisi ke digital media.

Dengan segala pertimbangan ia menjelaskan keyakinanya, mulai dari riset internal corporationya hingga lansiran data penonton televisi, pembaca koran hingga pengguna media siber. Bahkan saat itu ia sangat optimis bahwa media siber akan perkasa di era 4.0 ini.

Lalu bagaimana dengan kovergensi terbalik ? ternyata konverensi itu tidak melulu hanya soal bagaimana mengintegrasikan media saja, atau sekedar berpindah menggunakan server jejaring elektronik, tetapi lebih kepada pasar yang menjadi purnajual alias pasca terbitnya sebuah produk jurnalistik sebagai dapur bisnis.

Media Cetak Masih Primadona

Meski gegap gempita media elektronik memang tak terbendung, tetapi sebenarnya masyarakat pembaca ataupun instansi pemerintahan masih membutuhkan bentuk fisik sebuah karya, baik itu guratan jurnalistik soal sosialisasi dan himbauan massal, maupun momen story prestasi dan pencitraan untuk bisa langsung dibagikan pada pembaca yang juga bisa diarsipkan.

Anggaran Cetak Masih Besar

Dalam kontestasi media elektronik, modal trending saja tidak cukup, google adsense untuk sebuah e-jurnal maupun artikel tidak akan mencukupimu, apalagi harus selalu suci menjaga pakem tertentu, terlepas dari KEJ yang harus dipatuhi, kita juga harus meraih pasar purna jual, bagaimana caranya ?

Ya itu tadi, konvergensinya masih perlu pake koran. Pertimbanganya adalah harga advetorial dan iklan masih berbeda, karena di Lampung zaman now terkadang instansilah yang menetapkan harga, bukan pemilik portal berita, mau jadi gak mau ya sudah !

Ibarat memancing di satu kolam yang tidak bertambah luasanya, kemudian kolam tersebut di gusar uleh ratusan pemancing yang terus bertambah, umpannya pun beragam, mulai action separo dan separo umpan, kedekatan bilah joran ke pancingan, cara liukan joran mengais ikan mulai dengan teknik renggut paksa hingga santai perlahan, semua bermain, lalu yakinkah kita akan mendapatkan hasil maksimal ? mungkin kata cukup saja sudah bersyukur.

Rangsangan Berfikir dan Tantangan

Seorang senior bekas pimpinan redaksi koran besar di Lampung yang juga merupakan pengurus PWI Lampung, Wirahaduikusumah sempat mengatakan beberapa hari sebelum koran ini terbit, bahwa kini banyak wartawan malas berkarya.

Hakikatnya wartawan itu adalah seorang penulis, pencari data, pengolah informasi, tetapi melawan malas untuk profesinya sendiri masih saja susah. Hal itu seakan membuat nalar kian terangsang, lalu saya sejenak berfikir, untuk menjawab tantanganya. Saya buktikan dengan episode perdana ini padanya (Memorandum Lampung).

Terbit Perdana Bertepatan Dengan HPN

Sesaat sebelum saya meminta tanggapan dan saran kepada Ketua PWI Lampung, Supriyadi Alfian. Ia terlebih dahulu menyampaikan bahwa niat saya terbit perdana (Memorandum Lampung) kok pas sekali bertepadan dengan HPN.

Jujur saya juga kaget dan baru menyadari, tetapi pesan yang mendalam yang saya dapati adalah

“Jadikanlah mediamu sebagai informasi positif untuk masyarakat, taati KEJ dan semoga eksis,” tulis ketua PWI.

Dihati saya hanya mampu menggumam, sambil berucap terimakasih Ketua. Semoga niat awal cetak yang sebatas uji kemampuan dan pembuktian (belum ada modal continue) tetapi semoga saja doa itu sampai dan tercapai, Amin Allahuma Amin.

Kolom ini saya risalah kembali atas cetaknya koran Memorandum Lampung, karena pada kolom redaksinya juga dipimpin oleh saya sendiri.

Komentar

News Feed