oleh

Petani Menjerit, Lumbung Tapioka Nasional di Lampung Tengah Ambyar

Petani Menjerit, Lumbung Tapioka Nasional di Lampung Tengah Ambyar

Lampung Tengah, (Metropolis.co.id) – Petani singkong di lampung Tengah menjerit lantaran tak ada solusi lain untuk beralih dari tanaman Singkong ditengah hancurnya harga jual, para petani sangat berharap ada andil pemerintah mengatasi masalah ini dengan kebijakan penetapan harga terendah pembelian singkong milik petani.

Menurut Warga Kampung Negara Bumi Udik, Kecamatan Anak Tuha, Lampung Tengah, Yunus (35), seharusnya pemerintah segera mengambil kebijakan terukur demi menyelamatkan nasib petani singkong ditengah pandemi saat ini.

“Kami sudah capek dengar alasan perusahaan, yang rendemen gak ketemulah, Sagu impor lah dan banyak alasan lainya. kemauan pihak pabrik dan petani berbeda. Pabrik ingin harga murah (turun) repaksi (potongan) tinggi. Sedangkan petani berharap harga naik potongan turun,” jelasnya.

Menurutnya, untuk menyikapi persoalan saat ini, sudah selayaknya Pemerintah turun tangan. Terutama Pemkab Lampung Tengah, mengingat hampir 24 persen kebutuhan nasional tepung tapioka di hasilkan dari Lamteng.

“Pertemukan kami petani dan pihak pabrik agar bisa duduk bersama, Apa persoalan yang terjadi bisa di bahas bersama. Beberapa contoh persoalan yang pabrik ramai sedikit (ngantri) harga langsung turun. Masuknya singkong dari luar provinsi Lampung seperti dari  baturaja dan martapura. masalah rendemen, Apakah harus jenis singkong tertentu yang di tanam atau umur waktu panen. Permasalahan Ini harus di selesaikan,” ungkapnya.

Yunus mengaku pernah membaca disalah satu media online, Terkait anjuran dari Bupati Lamteng untuk beralih ke tanaman lain. Ini bukan solusi yang baik untuk petani, Karena tidak ada jaminan dari pemerintah setempat terkait harga dan pemasaran.

“Opsi petani singkong beralih ke tanaman lain yang disarankan Pak Bupati cukup bagus dan kita patut apresiasi. Tetapi bagaimana penerapan dan pola di masyarakat. Mengingat perawatan nanas tidak mudah, sedangkan untuk tanaman singkong perawatannya lebih mudah di bandingkan tanaman lain,” kata Yunus.

Mungkin, Lanjutnya, Ini bisa menjadi suatu catatan untuk Bupati beliau menyampaikan sudah berkomunikasi dengan salah satu perusahaan perkebunan.

“Ini menjadi pertanyaan besar saya juga,  kenapa beberapa tahun terakhir ini. Sebagian lahan nanas perusahaan  PT umas jaya di tanami singkong. harapan kami biarkan kami menanam singkong tolong bantu stabilkan harga singkong di saat panen raya,” tutup Yunus.

Sebelumnya di beritakan, Budi Warga Kampung Negara Aji Tua Mengeluh anjloknya harga singkong dan tinggi potongan.

Seakan gayung bersambut, dengan adanya Covid 19 yang melanda dunia mampu meluluh lantakkan semua lini. Tidak hanya dari segi kesehatan tapi berdampak juga pada sektor pertanian di Lampung Tengah, Khususnya petani singkong.

Tinggi biaya produksi tidak seimbang dengan harga jual singkong membuat semakin panjang penderitaan petani di Kabupaten Beguwai Jejamo Wawai. Apalagi Lampung tengah mayoritas petaninya menanam singkong.

Seperti diakui Budi, Petani singkong di Kampung Negara Aji Tua, Kecamatan Anak Tuha, Saat ini Rp.980/Kg, Singkong terbilang murah ditambah potongan rapaksi mencapai 30 persen.  Jelas tidak seimbang dengan modal yang di keluarkan.

Red

Komentar

News Feed