Menuju WCU, Rektor Unila dan Itera Ikuti Program PKKPT di Korsel

Kabar Kampus182 Dilihat

Bandar Lampung, (Metropolis.co.id) – Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) melalui Direktorat Sumber Daya, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi (Ditjen Diktiristek) melepas peserta program Peningkatan Kapasitas Kepemimpinan Perguruan Tinggi (PKKPT) untuk Rektor 2024, Sabtu, 20 April 2024.

Program yang dilaksanakan di Jakarta ini menjadi langkah strategis dalam mendorong peningkatan reputasi perguruan tinggi menuju world class university (WCU).

PKKPT merupakan program perdana yang diselenggarakan dengan tujuan meningkatkan kapasitas kepemimpinan Rektor melalui pendekatan berkelanjutan terhadap good corporate governance, pembelajaran, penelitian, kontribusi pada kehidupan masyarakat, dan peningkatan berkelanjutan dalam berjejaring dan berkolaborasi dengan para pemangku kepentingan.

Program PKKPT diikuti 17 rektor perguruan tinggi negeri (PTN) di Indonesia. Dua di antaranya Rektor Universitas Lampung (Unila) Prof. Dr. Ir. Lusmeilia Afriani, D.E.A., IPM., ASEAN Eng., dan Rektor Institut Teknologi Sumatera (Itera) Prof. Dr. I Nyoman Pugeg Aryantha.

Dirjen Diktiristek Abdul Haris menyampaikan, peran sentral dari rektor atau pimpinan perguruan tinggi sangat krusial karena rektor memiliki dua fungsi utama, yakni sebagai pemimpin pembelajaran (academic leader) dan entrepreneur.

Menurut Abdul Haris, kedua kata kunci ini yang harus diintegrasikan ke dalam diri para pimpinan perguruan tinggi. ’’Tantangan perguruan tinggi ini sangat besar sekali. Bagaimana sebagai academic leader, Rektor harus memberikan teladan dan menjalankan fungsinya sebagai pengelola perguruan tinggi dalam menyelenggarakan tridarma perguruan tinggi,” katanya.

Abdul Haris menegaskan, pimpinan perguruan tinggi harus mempunyai strategi yang jelas dalam menyelenggarakan pendidikan, riset, dan pengabdian masyarakat.

’’Itu semua tidak lepas dari tujuan yang ingin dicapai seperti reputasi akademik yang baik. Hal tersebut sangat penting guna menciptakan awarness tentang suatu perguruan tinggi. Berikutnya, seorang Rektor harus memiliki keterampilan entrepreneur dan kemampuan berinovasi dalam menghasilkan pendapatan (revenue),’’ ujarnya.

Abdul Haris melanjutkan, tantangan ke depan semakin dinamis sehingga pemerintah terus mendorong agar PTN semua bertransformasi menjadi perguruan tinggi negeri berbadan hukum (PTN-BH).

’’Harapannya dengan berstatus badan hukum, PTN bisa lebih mandiri dan fleksibel dalam menjalankan berbagai program yang sesuai dengan kemampuan serta potensi sumber daya (resource) yang mengarah pada meningkatnya reputasi dan pendapatan,” ungkapnya.

Abdul Haris berharap kepada para peserta agar dapat mengikuti perjalanan dari penguatan kapasitas ini dengan serius. ’’Dengan demikian, pengalaman yang nantinya diperoleh peserta dari Seoul National University (SNU) Korea Selatan ini ke depannya dapat melahirkan berbagai kerja sama yang lebih konkret dalam mendukung transformasi pendidikan di Indonesia”.

Sementara Direktur Sumber Daya M. Sofwan turut mendorong agar peserta dapat meningkatkan kapasitas entrepreneurship. Menurutnya, transformasi pendidikan tinggi khususnya pada bidang pengelolaan SDM akan sangat ditentukan oleh kapabilitas kepemimpinan dan kesolidan lembaga perguruan tinggi. ’’Ini adalah dua kata kunci yang sedang digodok dan aturannya sebentar lagi akan dikeluarkan,” katanya.

M. Sofwan memandang perlunya penguatan kelembagaan karena dengan kelembagaan yang solid pimpinan perguruan tinggi akan dipercaya mengelola sendiri seluruh aspek teknis yang menjadi hak atau tanggung jawab sebagaimana diatur di undang-undang guru, dosen dan Dikti.

’’Berikutnya yang tidak kalah penting adalah kepemimpinan. Tanpa pemimpin yang cakap, pengelolaan perguruan tinggi tidak bisa menciptakan lembaga perguruan tinggi yang solid,’’ ujarnya.

M. Sofwan juga menyoroti dampak program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) yang dinilai sangat membantu universitas untuk menapaki pengalaman baru dan lebih luas pada bidang akademik maupun nonakademik di luar dari kampusnya.

’’Saya harap pelaksanaan PKKPT ini menambah manfaat dan keberkahan dari berbagai program yang telah kita jalankan sebelumnya sehingga setiap perguruan tinggi bisa berkiprah dan berkontribusi sesuai dengan center of excellent masing-masing,” ungkapnya.

Diketahui PKKPT Rektor 2024 mengangkat tema Enterpreuneur Leadership Training. Sebanyak 17 Rektor PTN mengikuti kegiatan selama tujuh hari di Seoul National University (SNU), Korea Selatan.

Kegiatan yang melibatkan narasumber dan fasilitator dari berbagai instansi terkait ini diisi dengan seminar, lokakarya, studi kasus, self-paced learning, serta berjejaring dengan industri dan perguruan tinggi di Korea Selatan.

Adapun 17 rektor yang menjadi peserta adalah Agus Rubiyanto dari Institut Teknologi Kalimantan; Anter Venus dari Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta; Baharuddin dari Universitas Negeri Medan; Efa Yonnedi dari Universitas Andalas; Fatah Sulaiman dari Universitas Sultan Ageng Tirtayasa; Febri Yulikas dari Institut Seni Indonesia Padang Panjang; I Nyoman Pugeg Aryantha dari Institut Teknologi Sumatera; dan Irwandi dari Institut Seni Indonesia Yogyakarta.

Kemudian Ishak dari Universitas Teuku Umar; Lusmeilia Afriani dari Unila; Marwan dari Universitas Syah Kuala; Muryanto Amin dari Universitas Sumatera Utara; Nur Ihsan dari Universitas Sembilan Belas November Kolaka; Oktovian Berty A. Sompie dari Universitas Sam Ratulangi; Salampak dari Universitas Palangka Raya; Sugiyanto dari Universitas Tidar; dan Wildan dari Institus Seni Budaya Indonesia Aceh.

Humas UNILA

Komentar