Pemprov Sumbar Imbau Warga Tidak Konsumsi Air Sinkhole di Limapuluh Kota

Sumatera Barat198 Dilihat

LIMAPULUH KOTA- Fenomena tanah berlubang atau sinkhole yang muncul di kawasan pertanian Pombatan, Jorong Tepi, Nagari Situjuah Batua, Kabupaten Limapuluh Kota, terus mendapat perhatian pemerintah daerah.

Pemerintah Provinsi Sumatera Barat (Pemprov Sumbar) bersama Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Limapuluh Kota dan instansi terkait melakukan pemantauan serta kajian lanjutan guna memastikan keselamatan masyarakat di sekitar lokasi kejadian.

Di hadapan warga yang menyaksikan langsung sinkhole tersebut pada Minggu (11/1/2026), Wakil Gubernur Sumatera Barat (Wagub Sumbar), Vasko Ruseimy, menegaskan bahwa air yang menggenang di dalam lubang tidak disarankan untuk dikonsumsi langsung.

Berdasarkan hasil kajian awal Badan Geologi dan pemeriksaan Dinas Kesehatan (Dinkes), kualitas air menunjukkan kandungan bakteri yang cukup tinggi.

“Dari sisi pH-nya, air ini berada di bawah 6,5. Jadi kalau bisa tolong jangan diminum. Ibaratnya seperti air di sungai pada umumnya,” kata Vasko di hadapan masyarakat.

Ia berharap penjelasan tersebut dapat menjadi pedoman bagi masyarakat sekitar agar tidak keliru memanfaatkan air dari lokasi sinkhole.

Vasko juga menekankan bahwa fenomena ini murni proses alam dan tidak berkaitan dengan hal-hal mistis maupun klaim penyembuhan penyakit. Ia meminta masyarakat tidak mempercayai anggapan air tersebut memiliki khasiat kesehatan tertentu.

“Tidak ada air ini untuk menyembuhkan penyakit atau demi kesehatan. Itu tidak ada,” ujarnya.

Selain itu, Wagub mengingatkan agar masyarakat tetap mematuhi batas pengamanan yang telah ditetapkan.

Untuk sementara, jarak aman dari bibir lubang minimal 50 meter, mengingat kondisi tanah masih berpotensi mengalami amblasan lanjutan. Pembatasan ini dilakukan demi mencegah risiko kecelakaan.

Dari hasil perhitungan cepat, Vasko menjelaskan bahwa secara kimia, kandungan total zat terlarut (TDS) dan besi (Fe) masih tergolong aman. Namun, tingginya kandungan bakteri e-Coli menjadi faktor utama yang membuat air tersebut tidak layak dikonsumsi tanpa proses pengolahan terlebih dahulu. Jika terpaksa digunakan, air harus dimasak terlebih dahulu.

Kajian lebih mendalam juga masih terus dilakukan oleh Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sumbar bersama Badan Geologi.

Hasil kajian komprehensif tersebut nantinya akan menjadi dasar rekomendasi teknis yang diserahkan kepada Bupati Limapuluh Kota untuk menentukan kebijakan lanjutan terkait pemanfaatan dan pengamanan kawasan.

Kepala Dinas ESDM Sumbar, Helmi, menyampaikan bahwa Badan Geologi telah melakukan studi lapangan selama beberapa hari terakhir.

Namun, untuk memastikan penyebab amblasan secara menyeluruh, masih dibutuhkan peralatan tambahan serta dukungan logistik guna menunjang kajian ilmiah yang lebih detail.

Sebelumnya, sinkhole tersebut diketahui muncul secara tiba-tiba pada Minggu (4/1/2025) siang di lahan persawahan milik warga bernama Adrolmios (61).

Kejadian itu pertama kali disadari setelah terdengar suara bergemuruh menyerupai ledakan, sebelum tanah yang telah retak akibat kemarau amblas dan membentuk lubang berisi air dengan kedalaman diperkirakan mencapai 20 meter.

Merespons situasi tersebut, aparat kepolisian bersama BPBD Kabupaten Limapuluh Kota telah memasang garis pengaman di sekitar lokasi.

Meski rasa penasaran warga cukup tinggi, pembatasan tetap diberlakukan karena suara dentuman dari dalam lubang masih terdengar, menandakan proses amblasan belum sepenuhnya berhenti dan berisiko menimbulkan longsor susulan. (adpsb)

Komentar