oleh dr. Merry Yuliesday
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh…
Saya tak bisa berkata-kata menyaksikan musibah yang melanda Kabupaten kami Agam Sumatera Barat, nelangsa rasanya ketika memandang di setiap sudut ada saja air mata yang jatuh berderai.
Ya Allah kuatkanlah kami dalam menjalankan takdirmu. Hanya kepadamu kami bermohon dan menyerahkan seluruh hidup ini. Rasanya tak ada lisan yang bisa dikeluarkan selain istighfar.
Berharap agar tidak ada lagi musibah yang menghampiri. Tidak ada kata selain doa, agar semua bisa bangkit untuk menatap masa depan yang lebih baik.
Jujur, sebatas melihat saja, jiwa ini terguncang hebat. Saya tak sanggup menyaksikan apa yang ada di depan mata. Semuanya telah luluh lantah. Agam yang damai telah menjadi salah satu titik utama bencana.
Laksana air, begitu deras air mata mengalir. Di kecamatan Malalak, ada tangis yang tak bisa disembunyikan. Begitu juga di Maninjau Tanjung Raya, batu-batu yang besar mengelinding ke pemukiman menghancurkan harapan warga-warga kami. Kecamatan Palupuah juga demikian tiada terkira.
Turun Lokasi Bawa Bantuan Medis dan Sembako
Bersama organisasi profesi para spesialis Ikatan Dokter Indonesia Persatuan Dokter Emergensi Indonesia, Persatuan Rumah Sakit Indonesia Sumatera Barat, dokter-dokter dari provinsi luar Sumatera Barat memberikan layanan kesehatan dengan ikhlas, tanpa penghargaan. Saudara itu beralamat jauh.
Dari Lampung di ujung Sumatera, Sulawesi selatan di pulau seberang, ada Malang dari tanah Jawa dan juga Riau dari warga tetangga. Dan hari ini saya yakin kepedulian seluruh Indonesia hadir di posko-posko kami. Oganisasi wanita serta Relawan juga bergerak bahu-membahu dengan semua lapisan.
Semua mengambil peran terhadap apa yang bisa dilakukan terutama mendatangi kaum ibu, menemui saudara-saudara kami di pos pengungsian, pun di rumah singgah berisi pasien lepas operasi yang harus kontrol rutin di puing-puing reruntuhan, di kubangan lumpur raga itu memeluk anak-anak kami mereka menangis ‘sabak dimata’ kami tak bisa sembunyikan.
Banyak Keluarga kehilangan Namun Berupaya Iklas
Sayatan di hati kami semakin perih, lebih-lebih membayangkan hidup ke depan yang akan tertatih. Di setiap kunjungan ke lapangan, kami justru belajar soal kehilangan dari warga. Kami belajar keikhlasan dari sanak saudara yang tertimpa bencana.
Dalam bencana yang sangat dasyat, hanya kata berserah yang coba mereka imani sepenuh hati tanpa melupakan nurani. Mereka menjadi korban, ternyata masih bisa juga berbagi kepada sesama. Mereka seakan mengikhlaskan semua yang sudah terjadi. Semuanya berasal dari Sang Khalik dan kembali kepadaNYA.
Rumah Singgah
Ketika kami berkunjung ke Lubuk Basung yang saya tersedak tak bisa bicara, seorang warga menyediakan rumahnya sebagai rumah singgah bagi korban galodo (banjir/longsor). Ketika saya mampir ke rumah singgah ini, ada dua belas kepala keluarga yang tinggal dan menetap di sana. Rumah tersebut merupakan milik pribadi warga setempat.
Sangat padat aktivitas di rumah singgah ini, termasuk pelayanan kesehatan. Jika kondisinya berat maka diteruskan ke rumah sakit.
Di Kayu Pasak ada warga yang mendiakan rumahnya untuk istirahat siapa saja. Ketika itu saya menyaksikan ada sejumlah orang di sana khususnya personil penanggulangan bencana. Kondisi yang sama terdapat di banyak titik di sekitar lokasi bencana.
Harapan Bangkit
Kepudulian kepada sesama masih sangat terasa, padahal ketika itu mereka juga terkena dampak tak langsung. Tak terbayangkan bagaimana kondisi masuk ke dalam lautan lumpur, dihempas kayu-kayu besar, benar-benar sangat mengerikan.
Lemah segala persendian. Ketika menyaksikan petugas menemukan satu persatu jasad dari kubangan lumpur, Ya Allah badan kami membatu tangis ini tertahan, jauh di lubuk hati jiwa kami luluh lantah, layaknya bencana ini ya Allah.
Kuatkan kami menjalani takdir ini, kuatkan saudara-saudara kami lipahkan kekuatan dan kesabaran, saudara-saudara kami, jadikan ujian ini, untuk lebih mendekatkan kami kepadamu.
“Sabak dimato” adalah sebuah frasa dari Bahasa Minang. Arti dari “sabak dimato” dalam Bahasa Indonesia adalah “tangis di mata” atau perasaan sedih yang mendalam yang tertahan di pelupuk mata .
dr. Merry Yuliesday adalah ibu Ketua TP-PKK Kabupaten Agam Sumatera Barat atau istri dari Bupati Agam 2025-2030 Datuak Benni Warlis.







Komentar