Oleh: Nahdliya Izzatul Mutammimah
Di tengah pesatnya perkembangan teknologi yang membawa dunia ke era VUCA (volatility, uncertainty, complexity, dan ambiguity), penguatan karakter bagi peserta didik menjadi urgensi yang tidak dapat ditawar.
Ketidakpastian dan perubahan yang serba cepat menuntut generasi muda untuk memiliki ketahanan mental dan moral yang kokoh agar siap menghadapi tantangan masa depan.
Penelitian terbaru oleh Syamsuri, A., & Bur, E. (2023) dalam Bahasa: Jurnal Keilmuan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia mengungkapkan bahwa pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia memiliki peran strategis sebagai sarana utama dalam membentuk karakter unggul tersebut.
Penelitian ini menemukan bahwa melalui klausa dan kalimat yang termuat dalam buku ajar Bahasa Indonesia Kelas X SMA/SMK, terdapat enam karakter inti yang ditanamkan secara sistematis kepada siswa.
Karakter tersebut meliputi kreativitas, tanggung jawab, cinta damai, disiplin, peduli lingkungan, dan peduli sosial.
Keenam nilai ini diintegrasikan ke dalam materi pembelajaran sebagai upaya nyata untuk mewujudkan amanah pendidikan karakter yang digagas pemerintah.
Dengan demikian, bahasa tidak hanya dipelajari sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai medium internalisasi nilai-nilai luhur.
Secara spesifik, karakter kreativitas dan tanggung jawab dibentuk melalui materi laporan hasil observasi, siswa didorong untuk menyelesaikan tugas secara inovatif dan tuntas.
Sementara itu, karakter cinta damai diajarkan melalui materi kritik agar siswa mampu menyelesaikan konflik secara bijak tanpa merugikan orang lain.
Disiplin pun ditanamkan melalui media kreatif seperti pembuatan meme yang mengajarkan sikap menghargai lingkungan sekitar.
Terakhir, karakter peduli lingkungan dan peduli sosial diperkuat melalui materi slogan yang melatih kepekaan siswa terhadap isu-isu di sekeliling mereka.
Keberhasilan pembentukan karakter ini sangat bergantung pada proses pembelajaran dan penyajian bahan ajar.
Model materi yang variatif, baik dalam bentuk tulisan maupun visual yang menarik, menjadi daya tarik bagi peserta didik untuk mendalami informasi secara utuh.
Melalui integrasi karakter dalam pembelajaran bahasa, diharapkan tujuan pendidikan dapat dicapai secara maksimal, melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga tangguh dan bijaksana dalam menavigasi dinamika era VUCA.
Nahdliya Izza adalah mahasiswi Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Lampung.







Komentar