Tanpa Uang, Coblos Sesuai Hati!

Politik362 Dilihat

Pemilihan umum telah tiba, saatnya mandat suara konstituen berlabuh, hari ini 14 Februari 2024 TPS ramai kedatangan tamu, semua hadir dengan raut penuh suka cita dan riang gembira untuk Presiden dan legislatif pilihanya.

Setelah melakukan pencoblosan, akan muncul pertanyaan menyeruak dibenak masing-masing.

Mulai dari para calon yang penuh debar menanti hasil pemilihan hingga perhitungan. Pun masyarakat yang menerka apa nanti hasil dan efek pemilihan.

Mukadimah awal. Saya ingin menyelaraskan arti tentang pemilu, bahwa secara umum adalah waktu untuk memilih calon Presiden dan Legislatif setingkat kabupaten/kota hingga pusat, ditambah satu lagi DPD-RI.

Konkritnya masyarakat hadir ke TPS untuk memilih presiden dan wakil presiden secara langsung. Dengan sistem proporsional terbuka.

Sebelumnya saya desclaimer dulu, bahwa saluran pemikiran ini disampaikan redaksi semata untuk menyadarkan publik, tentang bagaimana psikologis tak mudah diubah dengan sejumlah uang ataupun paket sembako.

Fakta ini saya ejakan secara lugas, bahwa tabiat transaksional itu masih banyak di masyarakat kita, mulai dari iming-iming sejumlah uang, maupun pembagian sembako sebelum pemilihan.

Hanya saja oknum petugas yang dipercaya caleg yang membagi, sudah berhitung resiko hingga mereka bermain cantik meski tak jarang ada juga yang ketahuan dan diproses.

Kembali soal efek pemilu, sebagai efek pertama adalah, adanya keterpaksaan hati menentukan pilihan, karena telah menerima sejumlah uang.

Bersyukur bila calon yang memberi cis dan sembako dimaksud sesuai pilihan hati kita, namun bila tidak celakalah.

Artinya apa? Nanti sesusai pemilu bila bertemu calon lain yang tidak kita pilih, kita akan cenderung tak enak hati, bentuk reaksinya dimulai dari mimik muka yang tak enak, hingga perasaan mebuncah bahwa saya harus ‘berdusta’ memilih dia.

Efek dan reaksi itu akan alami terjadi, karena efek ‘titipan’ tadi, fikiran kita jadi tersandera, kita tak tegas bahkan tak bebas memilih sesuai keinginan hati.

Kemudian efek sosial lain yang sangat rasional ialah, apakah harapan dan tujuan pilihan kita bisa sampai, apakah akan terakomodir, sementara yang kita kenal hanya sebatas penghubung atau ‘calo suara’.

Sebagai pengingat bersama, jangan sampai efek itu terjadi, bila sudah terlanjur dilakukan berbenahlah, jangan sampai ada residu pemilu, yang ujungnya menggerutu dan mencerca hingga menjadi dialog hari-hari dimana dia duduk dan bercerita.

Dengan demikian ada sekelumit kesimpulan yang bisa kita maknai, bahwa kebebasan fikiran dan pilihan merupakan hal mutlak.

Bebas memilih tanpa pengaruh uang juga akan meringankan duniawi kita, tak mendapat sesalan calon lain yang kadang calon itu tetangga, teman, saudara kita.

Kedua mengurangi hisab akhirat dengan dosa yang dicatat malaikat bahwa kita telah tega bermain watak, baik disini, ambil disana, makan disitu.

Semoga saja apa pilihan kita hari ini berbuah baik, masing-masing bisa merealisasikan program, janji kampanye dan visi-misinya. Aamiin YRA.

Salam Redaksi

Komentar