Refleksi Satu Tahun Kepemimpinan Mahyeldi Ansharullah – Vasko Ruseimy: Dari Krisis Menuju Transformasi

Padang – Satu tahun kepemimpinan Mahyeldi Ansharullah bersama Wakil Gubernur Vasko Ruseimy di Sumatera Barat diwarnai rangkaian bencana yang menguji kapasitas pemerintah daerah. Namun di tengah tekanan, stabilitas sosial-ekonomi tetap terjaga dan fondasi pembangunan mulai diperkuat.

Secara makro, pertumbuhan ekonomi memang melambat menjadi 3,37 persen pada 2025. Meski demikian, indikator kesejahteraan menunjukkan perbaikan. Tingkat kemiskinan turun dari 5,42 persen pada 2024 menjadi 5,31 persen pada 2025, dengan jumlah penduduk miskin berkurang dari sekitar 315 ribu menjadi 312,30 ribu jiwa. Indeks Pembangunan Manusia juga meningkat dari 76,43 menjadi 77,27, menempatkan Sumatera Barat dalam enam besar nasional.

Tekanan fiskal menjadi tantangan utama akibat kebutuhan pembiayaan pascabencana yang meningkat sementara kapasitas pendanaan relatif stagnan. Pemerintah daerah dihadapkan pada dilema antara menjaga layanan publik dan mempercepat pemulihan. Dalam situasi tersebut, Mahyeldi – Vasko berupaya meningkatkan pendapatan daerah sekaligus mengoptimalkan belanja agar lebih tepat sasaran.

Gaya kepemimpinan keduanya terlihat menonjol dalam situasi krisis. Pendekatan yang menekankan stabilitas, koordinasi lintas sektor, dan pemberdayaan masyarakat menjadi kunci. Kehadiran langsung di lapangan — mulai dari meninjau fasilitas rusak hingga bertemu warga terdampak — memperlihatkan respons cepat sekaligus membangun kepercayaan publik.

Di sisi pembangunan, percepatan konektivitas menjadi agenda penting melalui proyek strategis seperti Flyover Sitinjau Lauik dan Jalan Tol Padang–Sicincin. Revitalisasi kampung nelayan, rehabilitasi jaringan irigasi, serta perluasan akses listrik lewat Program Bantuan Pasang Baru Listrik (BPBL) turut diarahkan untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

Ke depan, dukungan pemerintah pusat tetap krusial, khususnya untuk rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana. Pemulihan tidak cukup hanya mengembalikan kondisi semula, tetapi harus bertransformasi menjadi pembangunan yang lebih tangguh dan adaptif terhadap risiko.

Satu tahun pertama menunjukkan bahwa fondasi telah diletakkan. Tantangan masih besar, tetapi arah kebijakan mulai terbentuk. Jika konsistensi terjaga, Sumatera Barat memiliki peluang kuat untuk bangkit lebih cepat dan bergerak menuju pembangunan yang inklusif serta berkelanjutan. (Adv)

Komentar

News Feed