BPJS Ketenagakerjaan Bersama ILO dan Nestle Indonesia Perluas Jamsostek Rantai Pasok Kopi di Lampung

Institusi64 Dilihat


Bandar Lampung, Metropolis -BPJS Ketenagakerjaan terus memperkuat kolaborasi dengan International Labour Organization (ILO) melalui proyek Vision Zero Fund (VZF) dan Nestlé Indonesia untuk meningkatkan akses perlindungan jaminan sosial ketenagakerjaan bagi pekerja dalam rantai pasok kopi di Provinsi Lampung, khususnya Kabupaten Tanggamus.

Pertemuan ini menjadi bagian dari evaluasi dan penguatan kerja sama yang telah berjalan sejak 2025, sekaligus membahas langkah strategis untuk memperluas perlindungan bagi petani kopi dan pekerja yang terlibat dalam rantai pasok tersebut.

Kolaborasi ini tidak hanya mendorong peningkatan pemahaman mengenai keselamatan dan kesehatan kerja (K3), tetapi juga memperluas akses pekerja terhadap program jaminan sosial ketenagakerjaan.

Sejak 2025, berbagai kegiatan sosialisasi, pelatihan, dan pendampingan telah dilaksanakan untuk meningkatkan kesadaran petani serta kelompok usaha bersama (KUB) dan pemasok kopi mengenai pentingnya perlindungan kerja.

Dalam program K3 yang didukung ILO dan Nestlé Indonesia melalui VZF, sebanyak 161 petani kopi di Kabupaten Tanggamus telah dijangkau melalui pelatihan dan penerapan praktik kerja yang lebih aman.

Kepala BPJS Ketenagakerjaan Bandar Lampung, Sonny Alonsye, menyampaikan bahwa kolaborasi lintas pihak menjadi langkah penting untuk memastikan pekerja di sektor informal, termasuk petani kopi, memperoleh perlindungan atas berbagai risiko yang dapat terjadi selama bekerja.

Menurutnya, petani kopi memiliki peran penting dalam rantai pasok dan perekonomian daerah. Namun, pekerjaan di sektor pertanian juga memiliki risiko kecelakaan kerja yang dapat berdampak terhadap kondisi ekonomi pekerja dan keluarganya.

Oleh karena itu, peningkatan kesadaran mengenai pentingnya jaminan sosial ketenagakerjaan perlu diikuti dengan perluasan kepesertaan aktif.

Pertemuan ini juga bertujuan mengevaluasi perkembangan kerja sama, berbagi pembelajaran dari kegiatan yang telah dilaksanakan, serta merumuskan langkah lanjutan untuk memperluas perlindungan.

Salah satu fokus utama adalah mendorong agar pemahaman petani mengenai manfaat jaminan sosial ketenagakerjaan dapat diwujudkan menjadi kepesertaan yang aktif dan berkelanjutan.

Kedepan, upaya tersebut akan diperkuat melalui sosialisasi yang lebih intensif, penyampaian informasi mengenai manfaat dan iuran dengan bahasa yang sederhana, serta pendampingan dalam proses pendaftaran dan pembayaran iuran. Pendekatan ini diharapkan dapat membantu petani memahami manfaat perlindungan sekaligus memudahkan mereka untuk menjadi peserta BPJS KKetenagakerjaan

Sonny menegaskan bahwa sinergi antara ILO, BPJS Ketenagakerjaan, Nestlé Indonesia, pemerintah daerah, serta para pelaku rantai pasok kopi perlu terus diperkuat. Dukungan yang berkelanjutan, informasi yang mudah dipahami, dan pendampingan yang dapat diakses menjadi faktor penting dalam membangun kepercayaan petani terhadap program jaminan sosial keketenagakerjaa

“Harapan kami, semakin banyak petani kopi dan pekerja dalam rantai pasok kopi yang memahami pentingnya perlindungan jaminan sosial ketenagakerjaan dan kemudian menjadi peserta aktif. Melalui kolaborasi yang kuat dan berkelanjutan, kita ingin memastikan pekerja terlindungi dari risiko kecelakaan kerja maupun kematian, sehingga keluarga yang ditinggalkan tidak harus menghadapi beban ekonomi yang semakin berat, tutup Sonny.

Tinggalkan Balasan