Ketum KONI Imbau Cabor Jangan Korbankan Atlet, bila ada Masalah cepat Selesaikan

Sport103 Dilihat

Bandar Lampung, Metropolis – Ketua Umum KONI Lampung Taufik Hidayat terus mendorong pembinaan seluruh cabang olahraga agar terus bergerak dan melakukan pembinaan, Taufik juga menyayangkan masih ada beberapa cabang olahraga yang memiliki persoalan internal yang klasik sejak lama.

“Saya tak perlu sebut cabang olahraganya, karena ini bisa saja terjadi di cabor apapun. Yang terpenting adalah mari yang kita pikirkan itu atlet. Karena obyek pembinaan dari cabor dan KONI itu kan atlet. Jadi semuanya bermuara ke sana. Sehingga saya mengimbau kita semua yang posisinya sebagai Pembina, pengurus cabor, pelatih dan orang tua atlet, mungkin saatnya kita bersatu sekarang ini untuk merajut kembali prestasi anak-anak kita, atlet,” kata Taufik kepada media ini, Sabtu 24 Januari 2026, di Bandarlampung.

Ada berbagai macam konflik, lanjut Taufik, semuanya muaranya ke atlet juga. Menurutnya, saatnya semua pihak kembali ke dalam hatinya untuk merenungkan bahwa yang terpenting sekarang adalah atlet bisa berlatih dan mencapai prestasi terbaik.

“Kita semua tahu, siapapun yang berkonflik, baik pihak A maupun B, sebenarnya semuanya ingin atletnya berprestasi. Dua-duanya tujuannya sama. Namun kenapa bisa berlarut-larut, itu yang harus dikembalikan kepada individu. Ada yang pendendam, ada yang pemaaf, ada macam-macam karakter manusianya.” Tambah Taufik.

Kedepan, lanjut Ketum KONI, banyak pekerjaan rumah yang harus dihadapi, bukan hanya oleh KONI tetapi juga oleh para pengurus cabor, pelatih dan atlet.

“Kalau keadaan ini berlanjut berlarut-larut, maka kita semua rugi, atlet tidak bisa berprestasi, pembinaan kita jadi sia-sia. Lalu untungnya di mana kalua sudah demikian itu. Maka dari itu, marilah ini saat yang baik, menjelang Ramadhan kita semua bisa membersihkan diri, membersihkan hati menghadapi bulan suci.Saling memaafkan dengan momentum yang tepat, sehingga kebersamaan ke depan akan terjalin kembali dan atlet kita bersemangat untuk mencapai prestasi terbaik,” tutur Ketum.

Masa Depan Atlet

Atlet memiliki keterbatasan waktu pada usianya. Jika berfikir ke belakang, bahwa atlet-atlet ini sejak kecil sudah mengorbankan masa kecil dan masa bermainnya secara umum, hanya karena ingin berprestasi saat yang tepat.

“Maka kita harus kembali berfikir ke situ. Batas usia produktif dalam prestasi bagi seorang atlet rata-rata hanya sampai usia di bawah 30 tahun. Kita harus membantu mereka mencapai cita-citanya tercapai. Itulah keberhasilan Pembina, pelatih dan orang tua dalam mengawal atletnya. Konflik hanya akan menyita banyak waktu, pikiran, tenaga dan energy kita sendiri yang hilang tak bermakna. Mempertahankan pendapat atau lebih ekstrimnya ego boleh saja, tetapi tidak mutlak kemudian berlangsung selama hidup, lalu kapan kita berprestasi?” ucap Taufik.

Masa depan atlet menjadi salah satu problem yang juga harus dicari jalan keluarnya. Jika atletnya berprestasi, biasanya kemudahan itu lebih terbuka bagi masa depannya.

“Saat ini penghargaan kepada atlet berprestasi cukup baik dan membaik. Maka kita manfaat ini sebagai pemacu untuk menjadikan atlet kita meraih prestasi tertinggi di setiap kejuaraan baik daerah, nasional maupun internasional,” tambah Taufik.

Prestasi bagi atlet adalah meraih medali, prestasi pelatih adalah mengantarkan atletnya meraih medali, demikian juga prestasi Pembina dan orang tua adalah tatkala atletnya berprestasi.

“Jadi jika kita gagal dalam merangkainya, maka kita semua yang rugi dan tidak berprestasi,” ungkapnya.

Taufik mengimbau semua pihak mulai memperbaiki situasi ini sesuai denganyang ada di cabor masing-masing, karena satu dengan…

Red

Komentar