Mapala Unila Diklat 6 Peserta, Mendidik Bebasis ilmu Hingga Hapus Stigma Kekerasan

Nasional, Sport125 Dilihat

Bandar Lampung, Metropolis – Mahasiswa Pecinta Alam Universitas Lampung (Mapala Unila) menggelar pendidikan dan pelatihan (Diklat) ke-35 untuk 6 calon anggota yang berlangsung selama 5 hari di Batu keramat, Kabupaten Tanggamus.

Ketua Mapala Unila Efesus Sitorus mengatakan, pelatihan ini untuk mendapatkan ilmu tatacara tentang seni hidup dialam liar atau gunung hutan, melalui praktek dan penguasaan materi yang sudah berikan sebelumnya pada materi ruang di Seketariat Mapala Unila tepatnya di Gedung Pusat Kemahasiswaan Universitas Lampung.

“Ini praktek awal dilapangan, ini full materi soal adaptasi fisik di alam, semua diajarkan mulai dari manajemen perjalanan, susur sungai, susur pantai, penguasaan navigasi, praktek search dan Rescue (SAR) hingga cara bertahan hidup dialam (survival),” katanya, Sabtu (31/01/2026).

Penguasan Materi tanpa Kekerasan Fisik

Pendidikan ini kata Efesus Sitorus adalah ilmu tingkat dasar yang harus dimiliki pecinta alam, sehingga karena bersentuhan langsung dengan alam kerap kali dicap oleh masyarakat menjadi hal yang menakutkan.

Padahal pada hakikatnya adalah penerapan teori kombinasi pelatihan fisik, mental, keintelektualan, dan keterampilan teknis di alam bebas.

“Semua calon anggota berangkat dengan izin orangtua dan pihak kampus, semua diberi SK oleh Rektor Universitas Lampung, didampingi SC, Ketuplak, komisi disiplin, pengawas dari kampus, kekerasan fisik kami tiadakan, ini murni penguasaan materi jadi tidak ada keraguan lagi soal ini,” kata Mahasiswa fakultas Ilmu sosial dan pemerintahan Unila itu.

Skil Berbasis Alam Terbuka (Outdoor-Based Education)

Ia berharap pola pendidikan yang tepat dan kekinian dapat menghasilkan anggota yang profesional dan berkualitas, karena banyak oknum yang nekat melakukan perjalanan gunung hutan, memanjat tebing hingga survival tanpa pendamping dan memiliki ilmu serta literasi yang cukup sehingga berujung celaka.

“Semua kami ajarkan materi tentang tali temali, bahan dan bekal perjalanan, manajemen perjalanan, longmarch hingga teknik pendakian yang dianjurkan, termasuk bila tersesat ada ilmu navigasi dengan kompas manual sampai pada alat modern seperti penguasaan GPS,” terangnya.

Selain mengenal alam, peserta juga diajarkan soal adab dialam, memberikan pemahaman beberapa aktivitas yang dilarang terhadap hayati di alam bebas.

Enam calon anggota anggota Mapala Unila yang menjalani pendidikan dan pelatihan (Diklat) ke-35 di Batu keramat, Tanggamus.

“Jangan merusak alam, jangan mencuri atau membawa pulang dari alam kecuali cerita atau foto, semua ada pelajaranya, jadi tidak soal kekerasan fisik oleh senior yang sering kita dengar, justru fisik yang keras itu akan tercipta dengan sendirinya bila dilakukan dengan benar,” katanya mengimbau.

Tahapan Berjenjang, Diklat, Dikjut hingga Pengambilan NIA

Setelah tahapan Pendidikan dan pelatihan Lapangan, calon anggota nantinya akan menjalani pendidikan lanjutan, semua akan diberi bekal yang berfokus pada spesialisasi divisi, pendalaman teknis, dan aplikasi praktis di lapangan setelah Pendidikan Dasar (Diksar).

“Setelah lolos diklat, maka akan dilantik menjadi anggota muda, dia akan mejalani serangkaian kegiatan layaknya sebuah organisasi seperti pemahaman AD/ART hingga memilih fokus apa yang dia inginkan. Pilihannya ada panjat tebing, gunung hutan, lingkungan, rafting, susur goa dan sebagainya menyesuaikan kemampuan anggota bisa keluar provinsi atau culup di Lampung saja,” lanjutnya.

Hingga sampai pada pada tahap akhir setelah fokus satu bidang anggota muda akan menjalani ekspedisi sesuai bidang. Lalu mengambil Nomor induk anggota untuk menjadi anggota penuh.

“Endingnya adalah pengambilan nomor induk anggota, misal dia memilih gunung hutan ya biasaya ke jawa mendaki gunung sumbing, sindoro dan slamet (Triple S), divisi lingkungan bisa ke tahura wan abdul rahman, rafting bisa ke way besay atau way semangka, susur goa ke pahmungan Krui dan sebagainya,” kata Efesus Sitorus.

Setelah ekpedisi selesai maka anggota akan mendapatkan syal dan dilantik jadi anggota biasa, tentu setelah menunaikan kewajiban bernama laporan perjalanan yang akan disahkan Mapala Unila maupun pihak rektorat Universitas Lampung.

“Itulah serangkaian panjang proses bila jadi anggota Mapala Unila, sehingga banyak hal mengapa tiap perekrutan kita lebih mementingkan kualitas bukan kuantitas, semua diperlukan untuk keberlajutan organisasi,” terangnya.

Menghilangkan Label Mapala ‘Buruk’ Karena kekerasan

Ketua Mapala Unila juga berkaca pada kejadian masa lalu, tentang mengapa minat kegiatan alam bebas kurang diminati, pertama adanya dugaan kekerasan bahkan sampai menelan nyawa, semua kembali pada fisik peserta dan materi diklat yang tidak diaplikasikan dengan tepat.

“Harapan kami masyarakat jangan takut mempercayakan anaknya pada kami, kalau ada kejadian kaki lecet karena seminggu dilapangan ditambah cerita sampai berdarah-darah padahal karena karena digigit pacet ya itu biasa”

“Yang jelas sejak Mapala Unila Berdiri selama 37 tahun tidak ada yang patah tulang dari diklat, apalagi sampai meninggal jangan sampai, kami akan upayakan dengan standar ketat, senior yang hadir adalah senior yang mengerti, menguasai materi, begitu juga panitia sudah ada aturan ketat dilarang menggunakan kekerasan fisik,” ungkapnya.

Ia juga menyampaikan duka mendalam bagi mapala lain yang sempat mengalami hal fatal, tak menampik kemungkinan akan terjadi pada siapa saja, tapi setidaknya lima tahun terkhir mapala Unila konsisten tidak lagi memakai kekerasan fisik.

“Kita Mapala Unila sejak lima tahun lalu konsisten soal menghapus kekerasan fisik yang berlebihan, dulu kami juga sempat diterpa isu buruk tapi kami buktikan itu bukan kami, masyarakat bisa menilai, bahkan melihat di batu keramat itu pola pendidikan kami transparant,” demikian Efesus Sitorus.

Poet

Komentar