Gelar Rakor, Gubernur beri Pesan Mendalam Pada pejabat dan Birokrat

Saburai223 Dilihat

Bandar Lampung, Metropolis – Di hadapan para aparatur pemerintahan, sebuah pesan reflektif disampaikan tentang makna kepemimpinan yang sesungguhnya. Bukan soal anggaran semata, apalagi jabatan, melainkan soal cinta dan amanah.

Mengawali sambutan dalam Rapat Koordinasi Optimalisasi Aset & Inovasi Layanan di Kantor Gubernur Lampung, 5 Februari 2026, Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal mengutip sabda Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam.

“Seorang pemimpin yang baik adalah pemimpin yang mencintai rakyatnya, dan rakyatnya pun mencintai dia.” Kutipan itu menjadi fondasi utama dari pesan yang disampaikan yakni kepemimpinan bukanlah relasi kekuasaan, melainkan hubungan batin antara pemimpin dan rakyat.

Menurut Kiyay Mirza – sapaan akrab Rahmat Mirzani Djausal, perubahan adalah keniscayaan. Namun, sebelum berbicara soal adaptasi, pemerintah perlu memahami posisi dan perannya terlebih dahulu.

“Kita ini sebagai apa di negara ini, di daerah ini, di birokrasi ini?” ujarnya.

Jabatan, kata Mirza, bukanlah simbol kehormatan, melainkan amanah untuk melayani. Setiap pejabat, baik dengan APBD besar maupun terbatas harus mampu memberi manfaat nyata bagi masyarakat Lampung.

“Allah Ta’ala memberi jabatan bukan untuk dibanggakan, tapi untuk dijalankan sebagai pelayanan,” katanya.

Dalam analoginya, pemerintah diibaratkan sebagai orang tua bagi masyarakat. Seorang ayah dan ibu, katanya, memahami apa yang disukai anaknya, apa yang menyakitinya, dan ke mana anak itu akan diarahkan.

“Kita ini orang tuanya masyarakat Lampung. Kita harus tahu, masyarakat ini mau kita jadikan apa,” ujarnya.

Ia menepis anggapan bahwa segala sesuatu harus serba lengkap terlebih dahulu. Seorang orang tua, menurutnya, tidak perlu menunggu kaya raya untuk mendidik anaknya. Yang paling utama justru adalah cinta.

“Syarat nomor satu untuk membangun itu cinta,” katanya.

Cinta, lanjutnya, akan melahirkan chemistry antara pemimpin dan rakyat. Dari situlah kepercayaan tumbuh.

Setelah kepercayaan terbangun, barulah perencanaan, eksekusi program, dan kebijakan berbasis data dapat dijalankan secara efektif.

Di akhir sambutannya, ia kembali mengutip sabda Nabi Muhammad SAW tentang keberuntungan orang-orang yang ditakdirkan Allah menjadi pembuka pintu-pintu kebaikan.

Pesan itu seolah menjadi penegasan bahwa jabatan adalah jalan pengabdian, bukan tujuan akhir, melainkan sarana menghadirkan manfaat.

Red

Komentar