Wawako Ibnu Asis Buka FGD Pelestarian Kawasan Pusaka, Bukittinggi Tegaskan Komitmen Jaga Warisan Budaya

Sumatera Barat193 Dilihat

Bukittinggi – Pemerintah Kota Bukittinggi terus memperkuat komitmennya dalam menjaga nilai sejarah dan warisan budaya di tengah arus modernisasi.

Komitmen tersebut ditegaskan saat Wakil Wali Kota Bukittinggi, Ibnu Asis, membuka secara resmi Focus Group Discussion (FGD) Kajian Pelestarian dan Pengelolaan Kawasan Perkotaan Berbasis Warisan Budaya, yang digelar di Aula Balai Kota Bukittinggi, Selasa (31/03/2026).

Kegiatan strategis ini turut melibatkan mahasiswa Pascasarjana (S2) Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota Institut Teknologi Bandung (ITB), sebagai bagian dari kolaborasi akademisi dalam mendukung perumusan kebijakan pembangunan kota yang berkelanjutan.

Perwakilan ITB, Bagas Dwi Putra, menjelaskan bahwa Bukittinggi dipilih sebagai lokasi Studi Tematik karena memiliki narasi sejarah yang sangat kuat, mulai dari era kolonial hingga peran pentingnya sebagai pusat Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI).

“Bukittinggi merupakan bagian dari Jaringan Kota Pusaka Indonesia. Tantangannya adalah bagaimana modernisasi tidak melunturkan warisan fisik maupun nonfisik. Diperlukan pengelolaan kawasan dan tradisi secara berkelanjutan melalui kolaborasi lintas aspek,” ujar Bagas.

Dalam arahannya, Wakil Wali Kota Ibnu Asis menekankan bahwa pembangunan kota modern tidak boleh hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi dan pembangunan fisik semata. Menurutnya, Bukittinggi harus dipandang sebagai ruang sosial budaya yang menyimpan memori kolektif bangsa.

Ia menyampaikan sejumlah poin penting dalam diskusi tersebut, di antaranya perlunya integrasi pengelolaan kota yang menyatukan aspek fisik, sosial, dan ekonomi tanpa menghilangkan identitas daerah. Selain itu, ia juga menekankan pentingnya kebijakan berbasis data agar hasil kajian dapat menjadi rekomendasi strategis yang valid bagi pemerintah daerah.

Ibnu Asis juga menegaskan pentingnya pembangunan berkelanjutan yang mampu menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi dengan pelestarian lingkungan dan budaya.

“Kota Bukittinggi memiliki sejarah yang berlapis. FGD ini menjadi bagian penting agar kita dapat menghasilkan kebijakan yang relevan, menjaga identitas kota, namun tetap mampu meningkatkan kualitas hidup masyarakat,” pungkasnya.

Pemerintah Kota Bukittinggi berharap sinergi dengan kalangan akademisi seperti ITB dapat terus berlanjut. Keterlibatan generasi muda dan para pakar diharapkan mampu menjawab tantangan tata kota masa depan yang tetap berjiwa, berakar pada budaya, serta menjaga nilai-nilai sejarah sebagai identitas kota.(*)

Komentar