Pemko Payakumbuh Dorong Wisata Budaya dan UMKM Lewat Event SAKU TABA

Payakumbuh274 Dilihat

Payakumbuh — Pemerintah Kota Payakumbuh terus mendorong penguatan ekonomi masyarakat melalui pengembangan wisata berbasis budaya. Salah satu upaya tersebut diwujudkan melalui penyelenggaraan Sawah Padang Aua Kuniang Tujuan Wisata Budaya dan Adat (SAKU TABA), sebuah agenda bulanan yang memadukan pelestarian budaya lokal dengan pemberdayaan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Kegiatan yang berlangsung di Kelurahan Sawah Padang Aua Kuniang (Sapaku), Ahad (31/5/2026), resmi dibuka oleh Wakil Wali Kota Payakumbuh, Elzadaswarman, dengan melepas seekor itik sebagai tanda dimulainya atraksi tradisional pacu itik yang menjadi ikon budaya kawasan tersebut.

Mewakili Wali Kota Payakumbuh Zulmaeta, Elzadaswarman mengatakan sektor budaya dan pariwisata memiliki peran penting dalam menggerakkan perekonomian masyarakat, terutama di tengah tantangan ekonomi yang masih dihadapi berbagai daerah.

Menurutnya, pembangunan ekonomi tidak hanya bertumpu pada sektor formal, tetapi juga dapat dilakukan melalui optimalisasi potensi budaya, pariwisata, dan produk lokal yang dimiliki masyarakat.

“Kondisi ekonomi global saat ini sedang menghadapi berbagai tantangan. Karena itu, kita harus mampu memanfaatkan seluruh potensi daerah yang kita miliki. Salah satunya melalui pengembangan UMKM, pariwisata, dan budaya lokal yang dapat memberikan nilai tambah bagi masyarakat,” kata Elzadaswarman.

Ia menilai kegiatan seperti SAKU TABA tidak hanya menjadi sarana pelestarian budaya, tetapi juga mampu membuka peluang usaha, meningkatkan kunjungan wisatawan, serta menggerakkan roda perekonomian masyarakat setempat.

Menurutnya, generasi muda perlu melihat budaya sebagai peluang ekonomi yang dapat dikembangkan secara kreatif dan berkelanjutan.

Elzadaswarman menyebut Kelurahan Sapaku, khususnya kawasan Aua Kuniang, memiliki identitas budaya yang kuat melalui tradisi pacu itik serta kuliner khas gulai itik lado hijau yang telah lama menjadi daya tarik wisatawan.

Selain itu, kawasan tersebut juga didukung sejumlah destinasi wisata yang telah dikenal masyarakat, seperti Gadih Angik, Panorama Ampangan, dan Puncak Batu Barigi.

“Potensi ini harus terus dikembangkan. Jika dikemas dengan baik, budaya dapat menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru bagi masyarakat,” ujarnya.

Ia berharap SAKU TABA dapat menjadi agenda wisata unggulan yang mampu menarik lebih banyak wisatawan ke Kota Payakumbuh.

“Ketika wisatawan datang, pelaku UMKM mendapatkan manfaat, produk lokal semakin dikenal, dan perputaran ekonomi masyarakat ikut meningkat. Inilah yang terus kita dorong,” katanya.

Sementara itu, Lurah Sawah Padang Aua Kuniang, Deop Darius, mengatakan SAKU TABA lahir dari semangat masyarakat untuk melestarikan budaya lokal sekaligus memperkenalkan berbagai potensi daerah kepada publik yang lebih luas.

“Kelurahan Sapaku berada di jalur wisata Batu Barigi, Gadih Angik, dan Ampangan. Kami memiliki kekayaan budaya yang perlu terus dijaga dan diperkenalkan kepada masyarakat,” ujarnya.

Menurut Deop, tradisi pacu itik merupakan salah satu warisan budaya khas yang layak dikembangkan sebagai daya tarik wisata unggulan Kota Payakumbuh.

Selain menampilkan pacu itik, SAKU TABA juga menghadirkan berbagai pertunjukan seni dan budaya seperti tari tradisional, silek, randai, hadrah, seni bela diri, serta beragam kesenian rakyat lainnya.

Kegiatan tersebut turut melibatkan pelaku UMKM, kelompok UPPKA, sentra kerajinan bambu, hingga pelaku kuliner khas gulai itik yang dikelola masyarakat setempat.

“SAKU TABA menjadi wadah pelestarian adat dan budaya, sarana pengembangan bakat masyarakat, sekaligus media promosi bagi pelaku UMKM dan berbagai potensi lokal yang ada di Sapaku,” katanya.

Ia menjelaskan, kegiatan ini dirancang sebagai agenda rutin yang dilaksanakan setiap Minggu terakhir setiap bulan sehingga dapat menjadi kalender wisata bagi masyarakat maupun wisatawan yang berkunjung ke Payakumbuh.

Deop berharap kegiatan tersebut dapat membuka peluang kolaborasi dengan berbagai pihak, baik sektor swasta, perguruan tinggi, maupun mitra pembangunan lainnya dalam mendukung pengembangan kawasan wisata budaya.

“Harapan kami, Sawah Padang Aua Kuniang dapat berkembang menjadi destinasi wisata budaya baru di Kota Payakumbuh sekaligus menjadi ruang kolaborasi untuk kemajuan masyarakat,” ujarnya.

Ketua Kerapatan Adat Nagari (KAN) Aua Kuniang, B. Dt. Paduko Marajo, mengapresiasi penyelenggaraan SAKU TABA yang dinilai mampu menjaga keberlangsungan adat dan budaya sekaligus memperkenalkan potensi masyarakat kepada khalayak luas.

“Mudah-mudahan kegiatan ini terus berlanjut dan memberikan manfaat yang semakin besar bagi masyarakat, baik dalam pelestarian budaya maupun peningkatan kesejahteraan ekonomi,” pungkasnya. (MC)

Komentar