Bandar Lampung, Metropolis — Universitas Indonesia Mandiri (UIMandiri) mengirimkan delegasi resmi ke Bimbingan Teknis Penguatan dan Peningkatan Kapasitas Satgas PPKPT Tahun 2026 yang diselenggarakan LLDIKTI Wilayah II di Emersia Hotel & Resort, Bandar Lampung, Selasa, 21 Juli 2026.
Bimtek fokus pada kekerasan di lingkungan pendidikan tinggi, yang notabene bukan lagi isu yang bisa didiamkan.
Langkah ini juga sebagai mandat Permendikbudristek Nomor 55 Tahun 2024, Universitas Indonesia Mandiri (UIMandiri) mengambil langkah konkret:
Menyadari urgensi tersebut, Rektor UIMandiri, Dr. Rustono Farady Marta, S.Sos., M.Med.Kom., menugaskan dua delegasi resmi institusi: Florensia Irena, S.E., selaku Sekretaris Satgas PPKPT, dan Tozzy Guspa Robbi, mahasiswa yang menjabat sebagai Anggota Satgas PPKPT.
Penugasan ini merupakan wujud komitmen institusi bahwa kampus inklusif, aman, dan bermartabat adalah cita-cita yang dikejar secara aktif, bukan sekadar ditunggu.
Bimtek yang berlangsung penuh sejak pukul 07.30 WIB ini membekali peserta dengan kompetensi operasional menyeluruh: regulasi Permendikbudristek Nomor 55 Tahun 2024, penggunaan platform SAHABAT (Satgas Harmoni, Anti Kekerasan, dan Bantuan Tanggap).
Kemudia ada teknik penerimaan laporan, pendampingan psikologis awal, manajemen kasus, investigasi internal, hingga simulasi roleplay penanganan kasus kekerasan dan penyusunan rencana tindak lanjut yang siap diimplementasikan.
Kepala LLDIKTI Wilayah II, Prof. Dr. Iskhaq Iskandar, M.Sc., membuka kegiatan dengan pesan yang langsung menyentuh akar masalah.
“Kegiatan ini bertujuan memastikan perguruan tinggi menjadi tempat yang aman dan merdeka dari kekerasan, sehingga mampu menjadi ruang tumbuh dan berkembang bagi mahasiswa,” kata Dr. Iskhaq Iskandar.
Ia juga menyebut Perguruan tinggi tidak boleh terjebak dalam relasi kuasa yang membatasi ruang berkembang mahasiswa. Dosen harus menjadi role model, memiliki keberanian untuk speak up, menjadi pelopor sekaligus kompas moral.
“Kepada mahasiswa anggota Satgas PPKPT saya berpesan tiga hal: proaktif dan responsif; menjaga kerahasiaan, integritas, serta tidak mudah menghakimi; dan membangun sinergi dengan pimpinan, organisasi kemahasiswaan, serta instansi di luar kampus,” pesannya.
Pesan tersebut menemukan resonansinya dalam sosok Tozzy Guspa Robbi, delegasi mahasiswa UIMandiri, yang memandang keikutsertaan dalam Bimtek PPKPT ini bukan sekadar tugas administratif, melainkan tanggung jawab moral yang melekat.
“Menjadi delegasi Universitas Indonesia Mandiri dalam Bimtek ini merupakan amanah sekaligus tanggung jawab. Kami tidak hanya membawa nama institusi, tetapi juga membawa semangat untuk membangun ekosistem pendidikan tinggi yang bebas dari kekerasan, menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, serta memperkuat kepercayaan mahasiswa terhadap sistem perlindungan di kampus,” kata Tozzy Guspa Robbi.
Lebih dari sekadar urusan prosedur, Tozzy menyentuh dimensi yang kerap terlupakan dalam diskursus kekerasan di kampus: luka yang tidak terlihat oleh mata, namun nyata dirasakan oleh jiwa.
Menurutnya saat ini masih banyak yang keliru memaknai kesetaraan sebagai kebebasan untuk menyerang pribadi atau menjatuhkan mental orang lain.
Padahal luka mental sama nyatanya dengan luka fisik. Jika luka fisik dapat terlihat dan diobati, maka luka mental sering kali membutuhkan proses pemulihan yang panjang, bahkan bagi sebagian korban perjuangan itu dapat berlangsung seumur hidup.
“Oleh karena itu, membangun budaya saling menghormati merupakan bagian penting dari upaya mencegah kekerasan di lingkungan perguruan tinggi,” ujarnya.
Mahasiswa UIMandiri ini pun mengajak seluruh sivitas akademika untuk mengubah cara pandang dan cara bersikap — khususnya di ruang digital yang kini menjadi arena baru kekerasan berbasis kata.
“Saya mengajak seluruh sivitas akademika untuk menjaga serta menghormati harkat dan martabat sesama, menghargai perbedaan, dan memberikan ruang yang setara untuk menyampaikan pendapat dalam komunikasi publik dengan tetap mengedepankan etika, moral, dan tanggung jawab, terutama di ruang digital,” ajaknya.
Keikutsertaan UIMandiri dalam forum yang diikuti perwakilan perguruan tinggi seluruh wilayah kerja LLDIKTI Wilayah II ini bukan akhir dari proses, melainkan awal dari siklus penguatan yang berkelanjutan.
Di era di mana kekerasan berbasis digital semakin mengancam dan batas ruang kampus telah melampaui gedung perkuliahan, Satgas PPKPT yang terlatih, responsif, dan berintegritas menjadi kebutuhan yang tidak bisa lagi ditunda.
Platform SAHABAT yang diperkenalkan dalam Bimtek ini menjadi bukti bahwa negara hadir, bahwa sistem dirancang berpihak pada korban, dan bahwa kampus inklusif bukan angan-angan utopia.
Mewujudkan kampus bebas kekerasan bukan hanya tugas Satgas PPKPT, melainkan tanggung jawab kolektif seluruh sivitas akademika.
Sebab kampus terbaik bukan hanya yang unggul dalam prestasi, tetapi juga yang mampu menjamin setiap insan akademik belajar, berkarya, dan bertumbuh dalam lingkungan yang aman, bermartabat, dan penuh rasa hormat.
Rls
