Oleh : Nurhadis
“Assalamualaikum bang. Alhamdulillah kemarin melanjutkan misi kita relawan Palestina ke Aceh. Semoga bermanfaat. Semoga Allah jaga Indonesia,” isi pesan whatsapp masuk di HPku.
Kulihat tertulis, Raed Arada Mahasiswa Palestina, begitu nomor itu tersimpan di gawaiku. Raed adalah alumni S1 Universitas Lampung (Unila) dan baru saja menyelesaikan S2 nya di Universitas Indonesia.
Mengiringi pesan tersebut, Raed mengirimkan link postingan Instagram berisi photo dan video saat dia bersama teman-teman Palestina lainnya menyerahkan bantuan kepada warga Aceh terdampak banjir bandang.
“Alhamdulillah, kami terus melanjutkan misi untuk memberikan bantuan darurat dan menyalurkan bantuan kepada keluarga-keluarga yang terdampak banjir di Aceh. Kehadiran kami di sini adalah bagian dari tanggung jawab kemanusiaan kami, sekaligus sebagai bentuk balas budi atas dukungan yang terus diberikan Indonesia untuk Palestina,” isi penjelasan postingan di IG dengan nama akun mas.raed itu.
Tampak wajah lelah Raed di gambar, namun matanya menyala oleh semangat yang sama: ingin membantu. Mereka adalah anak-anak muda yang tanah kelahirannya sendiri hingga hari ini masih bergulat dengan krisis kemanusiaan.
Namun pada hari itu, mereka adalah pihak yang mengulurkan bantuan, bukan menerimanya. Mereka berjibaku menurunkan bantuan kemanusian kepada warga Aceh terdampak banjir bandang.
Terharu rasanya mendapatkan pesan whatsapp itu. Meski kita semua sama-sama tahu, mereka di Palestina sedang menderita akibat genosida dan penjajahan yang masih terus berlangsung hingga saat ini.
Gerakan saudara-saudara kita dari Palestina ini menjadi jembatan untuk semakin memperkuat hubungan antara Palestina dan Indonesia.
Bagi mereka, kepedulian ini adalah bukti komitmen terhadap persatuan dan solidaritas. “Indonesia selalu berada di shaff depan mendukung Palestina. Sekarang waktunya kami membalas kebaikan kalian,” ujarnya.
Mereka sebenarnya tidak punya banyak harta. Sebagian hidup dengan beasiswa pas-pasan. Namun justru itulah yang membuat aksi mereka terasa tulus: dari yang sedikit, mereka memberikan yang tak sedikit maknanya.
Di lokasi pengungsian, mereka membagikan langsung paket logistik makanan. Namun yang paling berharga bukan bantuan materinya—melainkan kehadiran.
Photo Raed dan teman-teman Palestina bersama korban bencana banjir bandang Aceh menyiratkan pertemuan dua luka—dan dua keteguhan.
Mereka duduk bersama anak-anak pengungsi, membaur, tampak sekali suasana kekeluargaan di sana. Memang Indonesia meski jauh tapi dekat dengan hati masyarakat Palestina.
Kepedulian mahasiswa Palestina merupakan kenangan panjang solidaritas Indonesia terhadap perjuangan mereka. Di Gaza, di Tepi Barat, di kamp-kamp pengungsian, kata “Indonesia” selalu disebut dengan penuh hormat.
Bendera merah putih sering terlihat berdampingan dengan bendera Palestina dalam banyak aksi. Kini, ketika Aceh dirundung duka, mahasiswa Palestina merasa waktunya untuk berbalas cinta.
Mahasiswa-mahasiswa Palestina itu mungkin hanyalah sekelompok anak muda dari jauh, yang jarak rumahnya ke Indonesia sejauh ribu kilometer.
Namun aksi mereka telah menorehkan pesan besar: Bahwa penderitaan membuat manusia saling lebih memahami. Bahwa kemanusiaan melampaui batas negara. Bahwa Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Indonesia tidak sendiri.
Dan dari tanah yang setiap hari berjuang di bawah bayang-bayang penjajahan dan genosida, mereka menunjukkan bahwa siapa pun, bahkan yang hidupnya penuh kesulitan dan keterbatasan, tetap bisa menjadi cahaya bagi orang lain.







Komentar