Gaet Mahasiswa USU, Hai Sawit Bicara Perspektif Ekonomi di Masyarakat

Nasional1366 Dilihat

Medan, Metropolis  — Sawit Academy EPS USU resmi digelar hari ini di Universitas Sumatera Utara (USU), menghadirkan ruang dialog terbuka antara mahasiswa, akademisi, dan praktisi industri dalam membahas peran sawit di kehidupan sehari-hari.

Mengusung tema “Sawit di Dalam Kehidupan: Mengajak Generasi Muda Memahami Peran Sawit dalam Keseharian”, kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen literasi sawit berbasis data dan akademik kepada generasi muda.

Kegiatan yang diselenggarakan oleh PT Hai Sawit Indonesia dengan dukungan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) ini dirancang sebagai forum edukatif dan partisipatif.

Direktur PT Hai Sawit Indonesia, M. Danang Mursyid Rijalul Qowi, dalam sambutannya menegaskan pentingnya literasi sawit di kalangan generasi muda.

“Sawit bukan sekadar komoditas, tetapi bagian dari kehidupan sehari-hari kita. Mulai dari produk pangan, kosmetik, hingga energi terbarukan, sawit hadir di sekitar kita. Melalui Sawit Academy, kami ingin menghadirkan ruang dialog yang objektif, berbasis data, dan dekat dengan mahasiswa agar lahir generasi muda yang kritis sekaligus solutif terhadap isu-isu sawit,” katanya.

Sementara itu, Dekan Fakultas Pertanian USU, Prof. Dr. Ir. Tavi Supriana, MS, menyampaikan apresiasi atas kolaborasi yang terbangun antara kampus dan indussawi

“Kampus memiliki peran strategis dalam membentuk cara pandang ilmiah mahasiswa terhadap suatu isu, termasuk sawit. Kami menyambut baik kegiatan ini karena membuka ruang diskusi yang konstruktif, berbasis akademik, dan mendorong mahasiswa memahami sawit secara komprehensif dari hulu hingga hilir,” ungkapnya.

Rangkaian acara diisi dengan lima sesi utama yang membahas berbagai perspektif, mulai dari pelurusan isu sawit berbasis data, pandangan akademik terhadap industri sawit, peran mahasiswa dalam literasi sawit, kontribusi produk turunan sawit dalam dunia kesehatan, hingga peluang karier melalui platform Hai Sawit.

Narasumber yang hadir antara lain Ahmad Taufan (PMU Controller AEP Plantations), Nursa’adah, S.ST., M.Agr (Dosen Agroteknologi USU), Enjel Silvia (Mahasiswi Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara), serta Dr. rer. medic., dr. M. Ichwan, M.Sc., Sp.KKLP, Subsp.FOMC dari Fakultas Kedokteran USU.

Melalui Sawit Academy EPS. USU, Hai Sawit Indonesia dan BPDP berharap semakin banyak generasi muda yang memahami peran strategis industri sawit dalam pembangunan ekonomi nasional, keberlanjutan, serta kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia.

Sebagai informasi, Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) merupakan badan layanan umum di bawah Kementerian Keuangan Republik Indonesia yang memiliki mandat untuk menghimpun dan mengelola dana perkebunan, termasuk kelapa sawit.

Dana tersebut dimanfaatkan untuk mendukung program strategis seperti pengembangan sumber daya manusia, peremajaan sawit rakyat (PSR), riset dan pengembangan, promosi, serta peningkatan sarana dan prasarana sektor perkebunan.

Dukungan BPDP dalam kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen memperkuat edukasi dan peningkatan kapasitas generasi muda di sektor sawit nasional.

Mahasiswa Fakultas Pertanian USU.
Enjel menegaskan bahwa kelapa sawit merupakan komoditas strategis penggerak ekonomi nasional.

Ia memaparkan bahwa nilai ekspor sawit Indonesia meningkat signifikan, dari sekitar US$1 miliar pada tahun 2000 menjadi sekitar US$31 miliar pada tahun 2023.

Sawit, menurutnya, bukan hanya bahan baku minyak goreng, tetapi bahan serbaguna yang digunakan dalam berbagai produk turunan seperti gliserin, asam lemak, hingga fatty alcohol untuk kebutuhan industri pangan, kosmetik, dan lainnya.

Namun, ia juga tidak menutup mata terhadap isu lingkungan yang kerap dikaitkan dengan sawit, khususnya deforestasi di kawasan Asia Tenggara.

“Apakah sawit satu-satunya penyebab deforestasi? Tidak,” tegas Enjel di hadapan peserta.

Ia mengutip data periode 1990–2018 yang menunjukkan bahwa sekitar 62 persen lahan sawit berasal dari lahan terdegradasi, 37 persen dari lahan pertanian dan perkebunan, dan kurang dari 1 persen berasal dari hutan yang belum terganggu.

Bahkan dalam periode 2000–2022, ketika luas kebun sawit meningkat signifikan, kontribusinya terhadap deforestasi disebut hanya sekitar 15 persen.

Menurutnya, hubungan antara sawit dan deforestasi bersifat kompleks dan tidak bisa disederhanakan menjadi satu sebab tunggal. Di sinilah pentingnya literasi.

“Sebagai generasi muda akademik, kita tidak boleh langsung percaya narasi ‘sawit sama dengan perusak hutan’ tanpa data. Tapi kita juga tidak boleh menutup mata bahwa sawit memiliki dampak lingkungan. Kuncinya adalah kritis, paham, dan bertanggung jawab,” ujarnya.

Enjel menegaskan bahwa mahasiswa harus menjadi agen pengetahuan, bukan sekadar konsumen opini mengedukasi berbasis data, mendukung sawit berkelanjutan, dan melawan hoaks dengan riset serta teknologi.

Kegiatan yang mendapat dukungan BPDP ini menjadi bukti bahwa literasi sawit tidak hanya dibangun dari sisi industri dan pemerintah, tetapi juga dari ruang kampus dan suara mahasiswa.

Sawit Academy di USU pun menegaskan bahwa masa depan sawit Indonesia sangat ditentukan oleh generasi muda yang kritis, objektif, dan bertanggung jawab.

Rls

Komentar