Kemudahan Akses, Minim Pemanfaatan: Problematika Penggunaan Platform Digital Dalam Keterampilan Berbahasa Siswa

Kabar Kampus121 Dilihat

Penulis: Abethia Cahyarani

Ditengah kemudahan akses digital, siswa sekolah, khususnya sekolah menengah, nyaris tidak terlepas dari gawai.

Namun, intensitas tersebut belum berbanding lurus dengan kualitas pemanfaatannya.

Aktivitas digital masih didominasi konsumsi konten, bukan produksi bahasa yang terarah. Interaksi yang terjadi cenderung singkat, tidak terstruktur, serta mengabaikan kaidah kebahasaan.

Padahal, ruang digital sejatinya merupakan laboratorium raksasa yang memungkinkan siswa melatih keterampilan menyimak, berbicara, membaca, dan menulis secara simultan.

Sayangnya, potensi ini belum dimanfaatkan secara optimal. Permasalahan utamanya bukan pada keterbatasan akses, melainkan rendahnya literasi digital produktif. Siswa belum diarahkan untuk menggunakan bahasa secara sadar, reflektif, dan strategis.

Kondisi ini menjadi semakin krusial ketika dikaitkan dengan masa depan siswa.
Keterampilan berbahasa tidak hanya menentukan keberhasilan akademik, seperti dalam penulisan esai dan wawancara beasiswa, tetapi juga memiliki nilai ekonomi di era digital.

Kemampuan mengolah bahasa membuka peluang dalam penulisan konten, pengelolaan media sosial, hingga produksi naskah (script). Artinya, sejak di bangku SMA, siswa sebenarnya dapat belajar sekaligus membangun potensi penghasilan.

Namun, tanpa kesadaran dan arahan, siswa akan tetap menjadi konsumen pasif di tengah ruang yang seharusnya produktif. Oleh karena itu, pembelajaran bahasa perlu diarahkan pada pemanfaatan platform digital yang mendorong produksi bahasa, bukan sekadar penggunaan.

Jika kondisi ini terus dibiarkan, kemudahan akses hanya akan melahirkan generasi yang terbiasa mengonsumsi tanpa mencipta.

Sebaliknya, dengan pemanfaatan yang tepat, gawai dapat menjadi titik awal bagi siswa untuk berkembang, berdaya, dan memiliki kesiapan akademik maupun ekonomi sejak dini.

Abethia Cahyarani adalah mahasiswi Program Studi Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

Komentar