Studium Generale FST UIN RIL Bahas Biosensor dan Penerapannya dalam Diagnostik Medis

Kabar Kampus13 Dilihat

Bandar Lampung – Program Studi Kimia Fakultas Sains dan Teknologi (FST) UIN Raden Intan Lampung menyelenggarakan kegiatan Studium Generale bertema Biosensor: Prinsip Dasar dan Penerapannya dalam Diagnostik Medis pada Jumat, (01/05/2026), yang dilaksanakan secara daring melalui platform Zoom.

Kegiatan ini menghadirkan narasumber Dr. Eng. Trisna Juliana, S.Si., S.M.C., yang menempuh pendidikan sarjana dan magister di Universitas Gadjah Mada, kemudian meraih gelar doktor serta melanjutkan studi postdoktoral di Nara Institute of Science and Technology.

Kegiatan dibuka oleh Dekan Fakultas Sains dan Teknologi UIN RIL, Dr. Sovia Mas Ayu, M.A. Dalam sambutannya, ia menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya forum akademik tersebut sebagai ruang penguatan wawasan bagi mahasiswa dan dosen terhadap perkembangan sains, teknologi, serta penerapannya di bidang kesehatan.

Menurut Sovia, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi menuntut sivitas akademika untuk terus mengikuti isu-isu mutakhir, terutama riset yang memberi dampak langsung bagi masyarakat. Melalui kuliah umum ini, mahasiswa diharapkan dapat memahami bagaimana konsep dasar sains diterapkan dalam pengembangan perangkat diagnostik medis yang cepat, sensitif, dan efisien.

Dalam pemaparannya, Dr. Trisna Juliana menjelaskan bahwa biosensor merupakan perangkat yang mampu mengubah fenomena biologis menjadi sinyal yang dapat dibaca dan dianalisis. Secara sederhana, biosensor bekerja dengan mengenali target biologis seperti molekul DNA atau RNA, protein, antibodi, antigen, sel, bakteri, maupun virus, lalu mengonversi interaksi tersebut menjadi sinyal listrik, optik, ataupun perubahan frekuensi.

Ia menjelaskan, biosensor merupakan bidang yang bersifat multidisipliner. Unsur biologi berperan dalam menentukan target yang akan dideteksi, fisika berperan mengubah proses pengenalan menjadi sinyal, kimia berperan dalam reaksi dan ikatan antarmolekul, sedangkan ilmu komputer berfungsi dalam pengolahan serta interpretasi data.

“Perpaduan berbagai bidang ini menjadikan biosensor penting dalam pengembangan sistem diagnostik modern,” jelasnya.

Salah satu contoh yang dipaparkan ialah sensor glukosa yang digunakan untuk pemeriksaan kadar gula darah. Dalam prosesnya, glukosa mengalami reaksi kimia dengan bantuan enzim atau mediator tertentu sehingga menghasilkan perubahan elektron yang kemudian dibaca sebagai sinyal. Contoh tersebut menunjukkan bahwa proses kimia di dalam biosensor memegang peranan penting untuk menghasilkan pengukuran yang reliabel.

Dalam penjelasan mengenai prinsip kerja biosensor, narasumber juga menguraikan penggunaan bioreseptor seperti enzim, antibodi, DNA, asam nukleat, maupun sel yang berfungsi menangkap target tertentu. Pada sistem berbasis antibodi dan antigen, misalnya, permukaan sensor dapat dimodifikasi agar mampu mengenali target biologis secara spesifik. Interaksi antara bioreseptor dan target itulah yang kemudian diterjemahkan menjadi sinyal deteksi.

Kegiatan ini juga membahas sejumlah mekanisme pendeteksian yang umum digunakan dalam biosensor. Pada metode elektrokimia, perubahan arus atau tegangan pada elektroda digunakan untuk membaca keberadaan analit. Pada metode optik, perubahan cahaya atau pergeseran sudut menjadi indikator adanya interaksi biologis. Sementara pada metode piezoelektrik, perubahan frekuensi akibat bertambahnya massa di permukaan sensor dimanfaatkan untuk mendeteksi partikel atau molekul target.

Selain prinsip dasar, narasumber menyoroti pentingnya teknik pemasangan bioreseptor pada permukaan sensor. Beberapa pendekatan yang dipaparkan meliputi penggunaan ikatan kovalen, self-assembled monolayer, adsorpsi, entrapment, serta material polimer bercetakan molekul.

Ia juga menyinggung perkembangan material pendukung biosensor seperti graphene dan metal-organic framework yang dinilai mampu memperluas permukaan sensor. Dengan permukaan yang lebih luas, jumlah bioreseptor yang dapat terikat menjadi lebih banyak sehingga sensitivitas deteksi meningkat.

Dalam konteks diagnostik medis, biosensor dinilai memiliki potensi besar untuk mendeteksi berbagai penyakit melalui identifikasi biomarker. Dr. Trisna menekankan bahwa pengembangan biosensor diagnostik harus diawali dengan penentuan biomarker penyakit yang akan dideteksi. Setelah itu, peneliti perlu menentukan bioreseptor yang sesuai, metode pengikatan pada sensor, serta sistem pembacaan sinyal yang akan digunakan.

Sejumlah contoh aplikasi turut dibahas dalam kuliah umum tersebut. Pada penyakit kardiovaskular, kerusakan otot jantung dapat menghasilkan biomarker tertentu yang masuk ke dalam darah dan dapat dikenali oleh biosensor. Pada kanker payudara, biosensor dapat diarahkan untuk menangkap penanda seperti HER2+ guna membantu deteksi sejak dini.

Sementara pada COVID-19, sistem biosensor dapat dikembangkan melalui pemanfaatan interaksi antara virus dan antibodi sehingga keberadaan virus dapat diidentifikasi melalui sinyal tertentu.

Tidak hanya membahas aspek prinsip dan aplikasi, narasumber juga memaparkan pengembangan instrumen biosensor. Menurutnya, sistem biosensor dapat dibuat menggunakan perangkat standar maupun pendekatan berbiaya rendah.

Beberapa contoh yang dipaparkan antara lain penggunaan screen-printed electrode, pengembangan instrumen mandiri, hingga pemanfaatan sistem quartz crystal microbalance (QCM). Hal ini menunjukkan bahwa riset biosensor tidak hanya berkaitan dengan prinsip ilmiah, tetapi juga kreativitas dalam merancang perangkat yang lebih terjangkau dan aplikatif.

Melalui Studium Generale ini, Fakultas Sains dan Teknologi UIN Raden Intan Lampung menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan kegiatan akademik yang relevan dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan masyarakat.

Kegiatan ini diharapkan dapat memperluas wawasan mahasiswa, mendorong minat riset lintas disiplin, serta menginspirasi lahirnya pengembangan teknologi diagnostik medis yang inovatif, sensitif, dan bermanfaat bagi kehidupan.

Hms UIN Ril

Komentar