Wako Zulmaeta Usulkan Rehab 100 RTLH untuk Percepat Penurunan Kasus TBC di Payakumbuh

Payakumbuh237 Dilihat

Padang — Wali Kota Payakumbuh, Zulmaeta, membidik program bantuan rehabilitasi rumah tidak layak huni (RTLH) dari Kementerian Kesehatan RI guna mempercepat penurunan angka tuberkulosis (TBC) di Kota Payakumbuh.

Usulan tersebut disampaikan Zulmaeta saat menghadiri kuliah umum bersama Wakil Menteri Kesehatan RI di Aula Prof. Dr. M. Syaaf Fakultas Kedokteran Universitas Andalas, Selasa (12/05/2026).

“Untuk percepatan penurunan kasus TBC di Payakumbuh, kita minta 100 paket perbaikan rumah tidak layak huni, karena sebagian besar kasus TBC ini berawal dari kondisi rumah yang tidak layak,” kata Zulmaeta.

Ia menilai penanganan TBC tidak cukup hanya melalui layanan kesehatan, tetapi juga membutuhkan intervensi terhadap kondisi lingkungan tempat tinggal masyarakat. Karena itu, Pemko Payakumbuh mendorong program rehabilitasi rumah bagi penderita TBC dari keluarga kurang mampu, khususnya kelompok desil 1 hingga 4.

“Kita ingin penderita TBC yang rumahnya tidak layak bisa mendapat bantuan rehab rumah. Ini penting agar upaya penanganan TBC berjalan maksimal,” ujarnya.

Zulmaeta menjelaskan, rumah tidak layak huni tidak hanya terkait struktur bangunan dan kecukupan luas, namun juga aspek kesehatan seperti pencahayaan, sirkulasi udara, serta faktor pencemar yang dapat mempengaruhi kondisi penghuni.

Sementara itu, Wakil Menteri Kesehatan RI Benyamin Paulus Octavianus menekankan pentingnya pembangunan sumber daya manusia melalui penguatan sektor kesehatan dan pemenuhan gizi masyarakat.

“Bagaimana menjadi bangsa yang unggul kalau SDM-nya lemah. Karena itu pemerintah menjalankan program makan bergizi gratis, bantuan gizi untuk balita dan ibu hamil, pemeriksaan kesehatan gratis, hingga pembangunan rumah sakit dengan fasilitas lengkap sampai ke daerah,” katanya.

Benyamin juga meminta kepala daerah aktif turun ke lapangan untuk memantau kondisi kesehatan masyarakat, termasuk kecukupan gizi warga.

Ia mengungkapkan, saat ini terdapat 25.037 penderita TBC di Sumatera Barat, namun baru sekitar 62 persen yang teridentifikasi. Di Kota Payakumbuh sendiri terdapat 709 kasus TBC dan baru ditemukan sekitar 57 persen atau 404 orang.

“Kota Payakumbuh ada 709 kasus TBC dan baru ditemukan sekitar 57 persen atau 404 orang. Nanti anggarannya akan kita berikan, karena pada umumnya penderita TBC berasal dari keluarga tidak mampu,” katanya.

Menurut Benyamin, pemerintah pusat juga menyiapkan dukungan rehabilitasi rumah bagi penderita TBC dari kelompok ekonomi bawah sebagai bagian dari strategi memutus rantai penularan.

“Kita ingin kasus TBC ini segera tuntas dan masyarakat bisa terbebas dari TBC,” pungkasnya.

Dalam kesempatan itu, Rektor Universitas Andalas menegaskan komitmen kampus dalam mendukung penguatan sektor kesehatan melalui riset dan pengabdian masyarakat. Ia juga menyebut TBC masih menjadi tantangan besar karena Indonesia termasuk negara dengan jumlah penderita tertinggi di dunia.

“Misi kita membebaskan Sumbar dan Indonesia dari TBC. Karena itu dibutuhkan dukungan semua pihak untuk melengkapi fasilitas dan memperkuat penanganannya,” tutupnya. (MC)

Komentar