Kalianda, Metropolis – Belajar dari peristiwa Tsunami Selat Sunda 2018, beberapa lembaga dan institusi sepakat untuk pengembangan Sistem Peringatan Dini (EWS) berkelanjutan di Desa Maja.
Bahkan hal ini diurai dan didiskusikan mendalam oleh Universitas Indonesia Mandiri (UIM), Asian Disaster Preparedness Center (ADPC), Mitra Bentala dan BPBD Lampung Selatan di Kalianda, Rabu (24/06/2026).
Kegiatan ini bagian dari Program SPRINT II guna mewujudkan sistem yang efektif, inklusif, dan berkelanjutan bagi wilayah pesisir rawan bencana.
Konsultan ADPC, Supriyanto, menjelaskan lembaganya berfokus pada penguatan ketangguhan bencana di Asia.
Di Indonesia, program ini saat ini hanya berjalan di Lampung Selatan bersama Mitra Bentala.
“Penguatan kapasitas masyarakat adalah kunci agar mereka memahami risiko dan bertindak cepat saat darurat,” ujarnya.
Afif Septian Rinaldi dari Mitra Bentala menyampaikan Desa Maja terdampak langsung tsunami 2018 akibat aktivitas Gunung Anak Krakatau.
“Dari 1.234 warga, sekitar 225 orang masuk kelompok rentan (lansia, disabilitas, balita, ibu hamil),” kata Afif.
Wilayah ini juga menjadi jalur wisata, sehingga kebutuhan EWS semakin mendesak sesuai aspirasi masyarakat, Destana, dan Forum Pengurangan Risiko Bencana setempat.
BPBD Lampung Selatan mendukung inisiatif
Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan Erwan Fatriansyah serta Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Nurma Suri menegaskan penanggulangan bencana butuh peran bersama pemerintah, lembaga swasta, akademisi, relawan, dan warga.
Mereka juga mengimbau laporan kejadian bencana disampaikan lengkap agar respons lebih cepat dan tepat sasaran.
Dosen UIM, Ence Sopyan, menekankan pendekatan pentahelix sangat diperlukan. Perguruan tinggi berkontribusi lewat pendidikan, penelitian, dan pengabdian.
“UIM terus mengembangkan Kampus Siaga Bencana; ke depan dapat berkontribusi dalam pengembangan teknologi EWS maupun penyusunan kebijakan yang adaptif,” katanya.
Ketua UKM SPAB UIM, Tozzy Guspa Robbi, mengingatkan pelajaran penting dari tsunami 2018: bahaya tidak selalu diawali gempa bumi.
Oleh karena itu, EWS berbasis komunitas-komunitas menjadi pelengkap sistem nasional.
“Sistem ini dapat memanfaatkan sarana sederhana seperti kentongan, beduk, pengeras suara, atau sinyal cahaya agar dapat menjangkau seluruh warga, termasuk yang tidak mengakses teknologi digital,” jelasnya.
Pengembangan EWS di Desa Maja akan melibatkan PT RISE Bandung sebagai pengembang teknologi, yang nantinya terintegrasi dengan Pusdalops BPBD Lampung Selatan.
Para pemangku kepentingan sepakat sistem ini tidak hanya mengandalkan teknologi, tetapi juga memperkuat kesiapan masyarakat dan koordinasi antar lembaga.
FGD ini diharapkan menjadi contoh praktik baik bagi daerah rawan bencana lainnya.
Red







Komentar